bahagia dengan berbagi

Kursi

kursi-dewan

 

Sebagai anak rantau, Bagindo termasuk sukses. Mulai merintis dari gerobak kaki lima, kini dia sudah punya tempat sendiri. Telah enam tahun dia berada di kota ini, dan tahun lalu dia telah berhasil membawa Rosma, kembang di desanya untuk mendampinginya sebagai istri.

Entah darimana awalnya Bagindo tertarik dengan politik. Di rumah makannya TV selalu menyala, dan mayoritas berita, kecuali kalau Rosma yang menunggu, pastilah diganti infotaintment atau sinetron. Bagindo sendiri langganan koran, meski koran lokal yang tak mahal harganya.

“Uda yakin mau nyaleg?”
“Yakin lah Ros..”
“Apa tidak ditunda dulu? Lebih baik uang itu kita pakai membuka warung baru”
“Tenang Ros, Uda sudah perhitungkan. Uang itu pasti terpakai, tapi kalau menang, sebulan pun bisa dapat uang sebanyak itu”

Sepertinya memang Bagindo terpengaruh dengan tampilan para politisi di media. Baju rapi, wangi, perlente, pakai jas, bicara teratur, dompet tebal, rumah dan kendaraan mewah. Semuanya sangat memukau Bagindo yang hanya lulusan SMEA.

Ketika Sudin, teman sekampungnya menawarkan dia nyaleg, seperti gayung bersambut.
“Tapi aku kan bukan orang partai Din?”
“Ah, tenang sajalah. Semua bisa diatur. Kebetulan saya kenal dengan ketua pemenangan pemilunya. Dan memang partainya akan membuka lamaran”
“Syaratnya apa saja?”
“Ijazah minimal SMA, dan tentu kau harus siapkan uang pendaftaran. Dan satu lagi, jika ingin dapat nomor urut kepala, harus ada pengeluaran lebih”
“Hmm.. Baiklah, nanti ambo pikirkan dulu”

Dan resmilah Bagindo menjadi caleg. Setelah menyelasaikan administrasi, tes kesehatan dan sedikit upeti, ia ditetapkan menjadi caleg dengan no urut 3.
“Din, kenapa saya dapat nomor leher, kau janjikan kepala?”
“Itu lah masalahnya, uang yang angku setor masih kalah dari yang dapat nomor kepala. Tapi tenang sajalah, sekarang kan sistemnya suara terbanyak”
“Oh ya, sudahlah kalau begitu. Sekarang angku bantu saya bentuk tim sukses”
“Beres..pertama kita data urang awak yang ada disini, lalu….”
Obrolan pun berlanjut sampai dinihari.

Semenjak jadi Caleg, waktu Bagindo mengurus warung makannya jauh berkurang. Pagi sudah keluar rumah, menjelang sore pulang. Kemudian berangkat lagi. Apalagi kalau bukan untuk kampanye meraup suara. Semua orang Minang perantauan dikunjungi, tokoh-tokoh masyarakat didatangi, dan sebagainya. Untunglah dia punya seorang Rosma, yang begitu sabar menggantikan peran suaminya, bahkan untuk belanja bahan masakan.

“Da, uang modal kita menipis. Besok harus belanja lagi ke pasar”
“Hah? Habis? Kenapa cepat betul habisnya?” suara Bagindo sedikit meninggi.
“Kan Uda sendiri yang pakai. Beli kaos, stiker, uang bensin, belum lagi orang-orang yang datang ke rumah. Habis lah Da” Rosma berusaha tersenyum menenagkan situasi.
“Kau sabar sajalah dulu, Uda kan sedang berjuang. Habiskan sajalah yang ada. Seminggu lagi Pemilu. Kalau menang, beres semua itu” kata Bagindo meyakinkan.
Seperti biasa Rosma hanya bisa meringis sembari menarik napas panjang.

Suatu hari datanglah seseorang yang mengaku “orang pintar” bertamu.
“Pokoknya Pak Bagindo tenang saja. Bapak pasti menang, asal syaratnya dipenuhi..”
“Apa syaratnya?”
“Satu hari sebelum pencoblosan, saya akan bertirakat untuk Bapak. Saya hanya perlu foto bapak dan beberapa sesaji. Tolong Bapak beli ini” kata orang pintar sembari memberi secarik kertas.

“Da, bukan kah itu syirik?”
“Ini ikhtiar Ros, syirik atau tidak itu kan tergantung niat”
“Tapi Da, kalau sudah pakai sesajian begitu kan..”
“Alah! Sudah! Jangan pula kau ikut campur! Kalau berhasil, kau juga yang senang..”
Lagi-lagi Rosma hanya bisa menarik napas panjang. Teringat pesan Abaknya sebelum merantau, “Ros, dua hal yang harus kau jaga, jangan tinggalkan sholat dan jauhi syirik”
Abak Rosma, Buya Hamdi adalah guru sekolah Muhammadiyah di kampungnya.

Sampailah ke hari pencoblosan. Dengan penuh keyakinan, Bagindo menuju TPS. Segala usaha telah dikerahkan. Baik usaha yang kelihatan, maupun bantuan orang pintar. Uang pun sudah banyak dikeluarkan.
“InsyaAllah kita menang Ros” ucap Bagindo seusai mencoblos.
“Amin..” jawab Rosma singkat. Entah kenapa hari itu hatinya justru tak tenang.

“Selamat Gindo, suara Angku paling banyak! Berdasarkan penghitungan manual C1 dari saksi” kata Sudin menyalaminya.
“Alhamdulillah..” Bagindo sumringah. Spontan ia sujud syukur. “Ros..Ros..kesini! Uda berhasil! Uda berhasil!”
Malam itu rumah Bagindo menjadi ramai. Tim suksesnya berdatangan. Juga para tetangga yang jadi tahu ia menang. Semua mengucapkan selamat. Tak lupa Bagindo memberi tahu orang tua dan sanak saudaranya di kampung. Terbayang kursi empuk, yang didudukinya dengan setelan jas rapi dan sepatu mengkilap. Rencananya saat pelantikan nanti, orang tua dan mertuanya akan diundang menghadiri. Sementara Rosma tak henti-henti berzikir, entah kenapa hatinya gelisah.

Maka datanglah hari dimana KPUD menetapkan pemenang. Bagindo, didampingi beberapa tim sukses menunggu di rumah. Sementara Sudin mengikuti pleno.
Dan sesuatu yang mengejutkan terjadi. Namanya tidak disebut sebagai anggota terpilih.
“Curang! Ini pasti terjadi kecurangan! Din, kenapa ini terjadi? Kau bilang suaraku paling banyak. Tapi kenapa kalah?”
“Mereka main mata dengan KPPS dan KPU, sehingga hasilnya diotak-atik lagi. Yang menang itu kabarnya masih punya hubungan saudara dengan Bupati” jawab Sudin lemah.
Bagindo bertambah gusar.

Sebuah sms masuk. Rupanya dari ketua DPC partai yang mencalonkannya. “Saudara Bagindo, harap saudara menerima keputusan KPU meski tidak sesuai hitungan internal partai. Ini sudah diluar kuasa kami, kalau saudara melawan akan merugikan saudara dan keluarga. Salam “

Bagindo naik pitam. Badannya menggigil menahan amarah. Dia merasa dicurangi. Braakkkk!!! Dilemparnya HP, digebraknya meja tamu, ditendangnya kursi. Bagindo mengamuk sejadi-jadinya. Terbayang rasa malu kepada keluarganya dan orang kampung yang sudah mengadakan syukuran. Apa yang hendak dia katakan? Tiba-tiba kepalanya sakit luar biasa, bumi terasa berputar. Dunia menjadi padam, dan Bagindo terjatuh.

Pagi itu Bagindo terbangun. Dia tidak tahu sama sekali dimana berada dan sudah berapa lama di tak sadar. Melihat dinding yang didominasi warna putih, cairan infus dan hidung terpasang oksigen, barulah sadar bahwa ia sedang berada di RS.
“Uda! Alhamdulillah…uda sadar..” Terdengar suara yang begitu dikenalnya, Rosma.
Bagindo ingin berbicara, tapi dirasakan lidahnya kelu. Begitu berat untuk berucap.
“Uda..uda sudah 3 hari tidak sadar. Kita sedang di RS. Alhamdulillah sekarang Uda membuka mata..” Ros memegang tangannya sambil terisak.
“Aaa..rrrrr…sssss…”
Hanya itu yang keluar dari mulut Bagindo. Dicobanya bergerak tapi tangan dan kakinya sebelah kanan begitu lemah, seolah dia tak punya tangan dan kaki sama sekali.

Barulah dia paham setelah dokter datang menjelaskan bahwa ia terkena stroke. Teringat terakhir sebelum semua gelap, kemarahannya. Sakit hatinya dicurangi. Kembali dia ingin berteriak. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata yang tidak jelas. Akhirnya air mata lah yang mengalir deras. Bagindo menangis, meraung. Beberapa kali dokter dan perawat datang menenangkannya. Terkadang, mereka menyuntikkan sesuatu ketangannya, yang membuat matanya tiba-tiba menjadi berat.

Hampir satu bulan lamanya Bagindo dirawat di Rumah Sakit. Perlahan-lahan dia sudah mulai bisa jalan, meski dipapah atau menggunakan walker. Bicaranya pun mulai bisa dimengerti meski pelo. Dan Rosma, istrinya yang sholehah itu begitu setia dan sabar menunggunya, sekaligus mengganti perannya sebagai kepala rumah tangga.

Hari ini dokter sudah perbolehkan Bagindo pulang. Sesampainya di rumah, Rosma memapah Bagindo berjalan ke rumah makan. Di meja kasir, ia menggeser kursi.
“Duduk lah Uda. Inilah kursi Uda yang sebenarnya,” kata Rosma.
Bagindo tersenyum kecut. Ia duduk. Barangkali Rosma benar, inilah kursinya yang sejati. Entah kursi di gedung dewan sana.

***

Keterangan :
Ambo : Saya
Angku : Kamu, ucapan pada sebaya
Urang Awak : orang Minang
Walker : alat bantu jalan penderita stroke

Mie Celor

Mie Celor

                           Mie Celor

 

Mie Celor. Kuliner Palembang. Mie dengan kuah santan campur Udang yang diblender.

Abdul Hadi Wijaya bersama Gus Sholah

 

 

 

 

 

 

 

Pemilu lalu menyisakan banyak kenangan. Salah satu yang melekat dibenak saya adalah ini ; Suatu pagi saya mendamping Caleg PKS Propinsi Jabar dapil Karawang-Purwakarta, Ir Abdul Hadi Wijaya MSc (selanjutnya disebut Pak Ahad) blusukan di Purwakarta. Rencananya kami akan mengunjungi beberapa titik, salah satunya bertemu seorang Ajengan (pemuka agama/Kyai) di daerah Bojong.

Sesampainya di rumah Pak Kyai, kami dipersilakan duduk. Maka dimulailah perkenalan. Dengan lancar Pak Ahad memperkenalkan dirinya. Yang membuat saya kaget adalah, ketika selesai menjelaskan bahwa dirinya adalah cicit dari pendiri NU Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, Pak Kyai (yang jelas-jelas lebih tua) tiba-tiba mencium tangan Pak Ahad. Saya lihat Pak Ahad balas mencium tangan Pak Kyai sekaligus merangkulnya. Dan dengan mata berkaca-kaca Pak Kyai berucap, “Sungguh saya merasa senang dan bangga dikunjungi oleh turunan Hadratus Syaikh..”. Saya terpana…

Sebelumnya saya sering mendengar dan membaca bahwa di kalangan NU, tradisi cium tangan adalah bentuk ihtiram (penghormatan) mereka terhadap seseorang yang lebih tua, atau kepada kyai/ gurunya. Sekarang saya saksikan dengan mata kepala sendiri! Dalam hal Pak Ahad, tentu cium tangan Sang Kyai tadi bentuk penghormatan beliau secara tidak langsung kepada Hadratus Syaikh melalui cicitnya. Menurut saya sih..

Pak Ahad lahir di Surabaya tanggal 25 Nopember 1967. Mbah buyut beliau, Choiriyah adalah anak pertama Syaikh Hasyim Asyari. Seperti kita ketahui, anak kelima Hadratus Syaikh adalah Abdul Wahid Hasyim, ayah dari mantan presiden Abdurrahman Wahid. Choiriyah menetap di Makkah, melahirkan putri bernama Abidah binti Ma’shum Ali. Abidah kemudian menikah dengan KH Mahfudz Anwar ( mantan ketua Lajnah Falakiyah PBNU ). Dari situlah lahir Hamnah, ibunda dari Pak Ahad. Ayah Pak Ahad adalah Drs Abdul Mughni yang masih kerabat dari KH Alawy Muhammad Sampang, Madura.

Berbeda dengan saudara-saudaranya, Pak Ahad menempuh pendidikan “sekuler”. Beliau mendapatkan beasiswa ke Belanda selama 10 tahun. Jadi meski turunan Hadratus Syaikh, jangan ajak bahasa Arab, tapi kalau bahasa Londo cascus Bro hehe..Di negeri Arjen Robben inilah beliau bersentuhan dengan dakwah dan aktif di dalamnya. Hingga kembali ke tanah air dan bekerja di IPTN. Terakhir beliau menjabat Ketua Bidang Pengembangan Ekonomi dan Kewirausahaan DPW PKS Jawa Barat.

Sudah jadi isu lima tahunan, bahwa PKS itu wahabi lah, anti qunutlah, anti tahlil lah, anti rajaban lah dan anti-anti lainnya. Ini sering dijadikan senjata oleh lawan politik untuk menghantam PKS di masyarakat yang mayoritas Nahdliyin. Kehadiran Pak Ahad punya arti tersendiri dalam mengkounter isu tersebut. Hampir semua pesantren yang didatangi menyambut dengan tangan terbuka. Bahkan seorang tokoh NU Purwakarta pernah menyampaikan secara terbuka ke jamaahnya mendukung Pak Ahad. Katanya sih bukan karena PKSnya, tapi karena turunan darah biru NUnya ituh!

Dari rekapitulasi internal berdasarkan C1, insyaallah Pak Ahad berhasil duduk menjadi anggota DPRD Jawa Barat. Kita doakan beliau amanah dan diberi kekuatan mewakili konstituen, terutama kalangan pesantren yang banyak tersebar di Purwakarta dan Karawang.

Sumber : http://www.pkspiyungan.org

Note : Judul by admin piyungan

Perang

leonidas

Pemilu ini perang belaka, tentu saja bagi yang merasakannya. Semacam perang legal, tanpa adu senjata dan pertumpahan darah. Perang yang mengandalkan otak ketimbang otot. Namun sama-sama menguras emosi dan perasaaan.

 

Perang ini menentukan wajah Indonesia ke depan. Apakah makmur dan sejahtera, atau masih bopeng-bopeng karena korupsi dan pemimpin yang berbalut citra.

 

Perang ini bukan hanya bicara logistik, tapi juga strategi dan taktik. Setiap caleg adalah panglima yang membawahi pasukannya, timsesnya, dan relawannya dalam menaklukkan daerah pemilihannya. Berbagai cara dilakukan ; baksos, direct selling, perlombaan, seminar, tabligh akbar dsb.

 

Perang ini uji nyali dan mental. Ketahanan diri melawan serangan dari luar ; black campaign, propaganda, boikot, intimidasi, serangan fajar, serangan dhuha dan terakhir serangan isya di PPS. Lebih dari itu semua adalah melawan diri sendiri. Ini yang paling sulit. Melapangkan hati disaat sempit, bersabar disaat emosi, dan tenang disaat galau. Maka bagi orang-orang yang tidak siap, minggir saja. Daripada kecewa atau masuk rumah sakit jiwa.

 

Perang ini perang bubat, perang basosoh. Segenap daya upaya dikerahkan untuk menang. Sumber daya dikeluarkan habis-habisan. Tenaga, pikiran, uang, apapun  menjadi senjata.

 

Perang ini mengenal diri. Sudah berapa hapal medan pertempuran. Lekuk jalan, bukit dan gunung. Demografi dan sosiologi masyarakat. Dana dan sumberdaya. Strategi yang tepat dan cermat, sehingga amunisi yang terbatas mampu menembus sasaran.

 

Perang ini mengintip kekuatan lawan. Bagaimana mereka habis-habisan. Jual tanah, sawah, pinjam kiri kanan. Berlelah-lelah mencari relawan dan tim sukses dengan blusukan. Ada yang tak segan-segan menjanjikan rupiah sekian jika mendapat suara signifikan. Semuanya tentu demi memenangkan pertempuran.

 

Perang ini adalah laboratorium  yang luas. Segala teori yang didapat dari ruang 3×2, ruang kelas, buku-buku, dipraktikkan. Materi-materi itu diuji ; apakah baru sebatas pengetahuan ataukah sudah berbuah amal?  

 

Perang ini menjadi  naif jika masih saja ada yang berpangku tangan. Seperti kaum Bani Israil yang membiarkan Nabi Musa jalan sendiri. “..pergilah engkau bersama Tuhan engkau dan berperanglah engkau berdua sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini !” (5:24)

 

Perang ini ajang pembuktian. Mana pejuang mana yang senang di zona nyaman. Momentum hanya datang sekali, seperti Allah swt membedakan mana yang ahlu Badr dan yang tidak.

 

Perang ini mengingatkan saya pada Leonidas. Seorang raja dengan 300 orang pasukan ketika akan berperang melawan ribuan pasukan Persia. Dengan lantang ia bertanya,”Spartan! Apa pekerjaan kalian?” Pasukannya menjawab dengan gempita, “Perang! Perang! Perang!”.

Perang ini puncak perjuangan. Dan seperti kata Rendra, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata..”

 

Telat

gadis kecil

 

 

 

 

 

 

Telat? Ya, begitulah keadaannya. Dan Zahwa melakukannya dengan cuek dan rasa tidak bersalah. Sebelum peristiwa ini Zahwa sangat diisiplin dan tidak mau telat. Sehingga aku atau istriku harus mengantarkan Zahwa sekitar jam 7.15. Waktu tempuh dari rumah ke TK Zahwa hanya sekitar 5 menit. Dan jam 7.25 semua murid sudah berbaris masuk kelas.

Kondisi berubah setelah kejadian ini. Suatu hari Zahwa bangun kesiangan. Akibatnya jam 7.30 baru selesai beres-beres. Saat itu Zahwa menangis tidak mau sekolah karena sudah telat. Setelah dibujuk, akhirnya Zahwa mau juga ke sekolah. Sesampainya di sekolah ternyata pintu kelas sudah ditutup. Zahwa kembali nangis dan tidak mau masuk. Setelah diketuk, akhirnya bu guru keluar. Dengan penuh kasih sayang dan keibuan, sang guru berkata,” Zahwa, kenapa nangis? Dijawab oleh istri saya,”karena telat bu guru”. Ga apa-apa kok telat,” hibur Bu Guru.
Mendengar perkataan Bu Guru Zahwa terdiam dan kembali belajar bersama teman-temannya.

Tapi apa dinyana, keesokan harinya malahan Zahwa kelihatan nyantai. Biasanya bangun langsung mandi namun sekarang nonton TV dulu. Ketika aku mengingatkan,”Zahwa,ayo mandi. Ntar telat lagi loh..” Dengan santainya Zahwa menjawab,”kemarin kata Bu Guru juga ga apa-apa telat”. Hah? aku dan istriku langsung kaget sekaligus tertawa mendengar jawabannya. Rupanya perkataan Bu Guru kemarin “dipelintir” olehnya. Sama seperti politisi sekarang yang hobi memelintir perkataan lawan politik untuk kepentingan politiknya.

Sampai sekarang kami belum mampu “menangkis” alasan Zahwa untuk telat. Zahwa yang sebelumnya mandi sekitar jam 6 pagi, sekarang baru mandi sekitar jam 7. Itupun dilanjutkan dengan menonton Dora The Explorer, kartun kesayangannya. Baru jam 7.30 Zahwa berangkat sehingga bisa dipastikan hampir setiap hari telat.

Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat buat para orangtua, calon orang tua atau pendidik. Bahwa kita betul-betul harus memperhatikan perkataan kita kepada anak.Mungkin maksud kita baik, tapi yang ditangkap oleh anak belum tentu sesuai dengan maksud kita. Kalau tidak, bisa jadi perkataan kita digunakan sebagai “senjata” oleh anak kita untuk “menaklukkan” kita.

 

 

Bapak dan Rhoma Irama

rhoma

 

Akhirnya tergelitik juga untuk menulis ini. Setelah menyaksikan 1 jam bersama Rhoma Irama di sebuah stasiun TV swasta yang menghadirkan salah satu penggemar berat Bang Haji, yakni Andrea Hirata.

Ayahku pun begitu. Beliau adalah salah seorang fans Bang Haji, sebutan Rhoma, yang setia. Alm ibuku pernah bercerita bahwa sewaktu kecil aku sering ditidurkan dengan lagu-lagu Bang Haji. Baik dinyanyikan sendiri maupun lewat kaset. Dan kebiasaan ini terus kepada 2 orang adikku. Pernah kutanyakan alasan beliau mengidolakan Bang Haji. Ayahku berkat,”Rhoma Irama itu punya prinsip yang teguh, dan ia berdakwah lewat lagu-lagunya”. Hmmm, ayahku memang seorang yang religius karena beliau tamatan Pesantren Thawalib Parabek di Bukittinggi (Kalau tidak salah pesantren ini didirikan oleh ayahnya Buya Hamka).

Hampir setiap film Bang Haji keluar, aku selalu diajak menonton ke bioskop (sepertinya hobi nonton filmku berawal dari sini deh). Waktu itu boleh dikatakan film-film Bang Haji selalu Box office. Biasanya, beberapa saat setelah film keluar, maka keluar juga kasetnya alias original soundtracknya. Dan itu biasanya dicantumkan di koran. Maka hampir setiap hari ayahku melihat koran Sinar Pagi yang jadi langganannya (thanks dad,telah mengajarkanku hobi membaca sejak kecil). Apabila di koran sudah diumumkan bahwa kasetnya keluar, maka ayah akan mengajakku ke toko kaset dua atau tiga hari sesudah pengumuman itu. Maklum, kota kami adalah kota kecil yang jauh dari ibukota. Tak heran jika ayahku memiliki koleksi yang lengkap kaset-kaset Bang Haji.

Kenangan manis yang masih tersimpan dalam benakku adalah ketika Rhoma Irama beserta Soneta grup konser di kota kami. Ayahku yang saat itu bekerja di Pemda bagian Kesra, mendapatkan tiket gratis. Bukan main senangnya hatiku saat itu. Malam harinya ku lihat orang-orang berbondong-bondong datang ke stadion sepakbola dimana konser berlangsung. Yang kuingat saat itu kami mendapatkan tempat yang sangat strategis yakni persis di depan panggung. Sorak sorai pengunjung semakin keras ketika sang Raja naik panggung dengan lagu, kalau tidak salah, Lari Pagi. Kulihat ayah begitu menikmati konser ini. Mungkin sama ketika anak-anak sekarang datang di konser Peterpan, Ungu dsbnya. Aku sendiri waktu itu cukup senang. Karena ada bahan cerita dengan teman-teman di sekolah. Tapi aku sendiri lebih menikmati jajanan beserta selingan lawaknya.

Begitulah ayahku dan idolanya. Sampai saat ini beliau masih mendengarkan lagu-lagu Bang Haji. Meski sekarang tidak lewat kaset.Kata adikku, sekarang Ayahku punya USB yang semuanya berisi lagu-lagu Bang Haji.

wanita hamil

Perempuan dengan badai di perut, begitulah Rendra menggambarkan seorang perempuan yang sedang hamil dalam puisi “Perjalanan Bu Aminah”. Tapi tulisan ini tidak hendak membahas puisi itu. Karena saya bukan pengamat ( ini profesi lagi laku-lakunya loh!) sastra, juga bukan sastrawan. Hehe

Saat ini istri saya memang membawa-bawa badai di perutnya, alias hamil. Ini merupakan kehamilan ketiga baginya. Alhamdulillah kami sudah dikaruniai sepasang anak, zahwa umur 5 tahun dan Azkal umur 4 tahun. Umur kehamilannya sekitar 6 bulan. Memang sampai saat ini kami belum pernah memeriksakan kehamilan istriku ini ke dokter kandungan. Bukan karena mentang-mentang kami berdua dokter, tapi karena waktunya belum pas ( sory, temen2 residen/SpOG kalau saya tidak ngikutin protap).

Ada perbedaan kehamilan ini dengan sebelumnya. Istri saya juga sering protes dengan perbedaan ini. Yakni, ngidam dan oek-oek-an alias muntah. Di kehamilan pertama dan kedua, istri saya sama sekali tidak ngidam apa-apa dan tidak morning sickness sedikitpun. Orang Jawa bilang hamil kebo ( saya bayangin kalo kebo hamil kudu ngidam ama muntah-muntah, pasti kasian yang punya kali ya? hehe). Tentunya kondisi ini sangat “menguntungkan” saya sebagai suami yang harus siaga. Karena saya sering dapat cerita dari temen-temen yang lain bagaimana mereka harus muter-muter nyari manggis di malam hari pada saat musim mangga!hehe.

Pada kehamilan ketiga ini, barulah saya merasakan juga “penderitaan” suami ketika istrinya ngidam. Pernah suatu waktu kami dalam perjalanan, kemudian singgah di suatu mesjid untuk sholat. Ketika selesai istri saya melihat mangga muda yang ada di pohon halaman mesjid itu seraya berkata,”kayanya itu mangga menggoda juga”. Nah lo, kan saya jadi bingung. Mau minta, ga tahu ke siapa karena mesjidnya ga ada yang nungguin. Mau ngambil aja, Astaghfirullah! Masa nyolong di Rumah Allah? Akhirnya,saya keluarkan jurus pamungkas saya, yakni mengalihkan perhatiannya seraya tancap gas! Bruuumm…

Masalah oek-oek istri saya juga cukup aneh. Umumnya muntah pada orang hamil seringnya pagi, makanya disebut morning sickness. Tapi pada istri saya kebanyakan malah malam hari (setahu saya sih ga ada istilah night sickness). Akhirnya, pada malam hari saya beraih profesi menjadi tukang pijat untuk mengeluarkan seluruh isi lambungnya. Terkadang istri saya bertanya dengan nada protes,” kok hamil kali ini beda sih?” Lalu saya jawab dengan nada becanda,” Ya,iyalah. Masa ya iya dong? Hehe. (Rupanya walaupun seorang dokter, disaat-saat tertentu keluar juga awamnya)

Saya sangat salut kepada istri saya dan juga kepada ibu-bu yang ada badai di perutnya. Mereka begitu luar biasa dengan naluri keibuannya sehingga apapun kondisinya mereka jalani dengan penuh keikhlasan. Dalam puisi Rendra, Bu Aminah tidak jadi menggugurkan kandungannya, padahal ia sudah berada di klinik aborsi. Walau badai yang ada di perutnya dari perbuatan haram, perang batin Bu Aminah menyimpulkan bahwa isi perutnya juga memiliki hak untuk menghirup dunia. Makanya saya sering merasa heran kenapa masih saja ada orang yang mau menggugurkan kandungannya dengan alasan bla..bla..bla..Kata Bang Haji Oma, terlalu!

Kepada istriku dan ibu-ibu yang ada badai di perutnya, teruslah memelihara dan merawat badai yang sudah ditanamkan Allah SWT di perutmu. Biarlah Allah SWT dan para malaikatNya melihat dan menyaksikan perjuanganmu, sehingga kamu mendapatkan kemuliaan dariNya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.