bahagia dengan berbagi

tjokroaminoto

1. “Sudah sampai dimana hijrah kita, Gus?” tanya HOS #Tjokroaminoto kepada H Agus Salim

2. Pertanyaan ini berulang2 disampaikan #Tjokroaminto. Yang saya hitung 3x kepada H Agus Salim, 2x kepada cermin

3. Entah mantra atau magis apa yang terdapat pada kata Hijrah tersebut, sampai2 ketika di penjara pun #Tjokroaminoto menulisnya di dinding.

4. Menonton Guru Bangsa #Tjokroaminoto seperti belajar kepada The Father of Founding Father Indonesia.

5. Film berdurasi cukup lama, yaitu 2,5 jam. Penonton disuguhi perjalanan hidup #Tjokroaminoto dari awal pernikahannya dgn Suharsikin,anak Bupati Ponorogo.

6. Kegelisahannya melihat nasib pribumi, membuat #Tjokroaminoto yg hidup berkecukupan laiknya Priyayi, hijrah ke Semarang, dan berakhir di Surabaya.

7. Di Surabaya #Tjokroaminoto membangun usaha percetakan, sementara istrinya berjualan batik. Yg fenomenal tentu Rumah Paneleh..

8. Tempat singgah dan kos calon2 pemimpin bangsa seperti Soekarno, Kartosuwiryo,Muso, Tan Malaka, Hamka, Agus Salim dll #Tjokroaminoto

9. Agak banyak fragmen dalam film ini, sehingga penonton yang buta riwayat hidup #Tjokroaminoto akan kesulitan menangkap alurnya.

10. Sinematografi film ini cukup bagus merekam latar tahun 19an awal. Wardrobe ok. Yang main pun tidak diragukan aktingnya #Tjokroaminoto

11. Reza Rahardian ciamik perankan #Tjokroaminoto. Kemudian Christine Hakim, alm Alex Komang (film terakhir?), Ibnu Jamil, Chelsea Islan dll

12. Saya puji tim casting dalam pemilihan Suharsikin istri #Tjokroaminoto (pendatang baru?). Alamiah sekali sebagai wanita priyayi Jawa tempo dulu.

13. Juga ada @sudjiwotedjo sebagai mertua #Tjokroaminto, yg seorang bupati. Dan beberapa pemain bule dgn native speak Belanda. Memperkaya film ini.

14. Di film ini kita bisa menikmati lagu Lir Ilir dan Internasionale. Juga ada lagu Terang Bulan dgn adegan #Tjokroaminoto yg menari bersama istri,anak dan Kusno (Soekarno)

15. Di film #Tjokroaminoto kita jadi tahu tuduhan “memanfaatkan agama utk tujuan politik” kpd umat Islam itu berasal dari penjajah Belanda.

16. Di film #Tjokroaminoto kita jadi tahu bahwa slogan Islam Yes, Partai Islam No itu pertama kali dicetuskan oleh Snock Hurgonye

17. Di film ini kita jadi tahu bahwa #Tjokroaminoto yg semula menggunakan blangkon, beralih pakai peci hadiah dari H Agus Salim.

18. Di film #Tjokroaminoto kita jadi tahu bahwa slogan “sama rata sama rasa” itu dari SI, yg mengilhami Soekarno menemukan ide Marhaenisme.

19. Di film #Tjokroaminoto kita jadi tahu filosofi Batik itu adalah “Basmalah Titik”. Yaitu hidup berawal dari bismillah, mengalir dan berakhir pada titik.

20. Saking populernya bersama SI, #Tjokroaminoto bahkan dianggap sebagai Ratu Adil. Belanda menyebut beliau Raja Tanpa Mahkota.

21. Byk fragmen2 dlm #Tjokroaminoto ini kalau didalami, akan jadi cerita sendiri. Semisal proses “pembangkangan” seorang muridnya yg bernama Semaun.

22. Atau #Tjokroaminoto yg dlm safari politiknya ke cabang2 SI, sering membawa seorang penasihat kerajaan Belanda bidang agama Islam, juniornya Snock H.

23. Saya duga, tdk banyak literatur sejarah yg betul2 mendalami kehidupan #Tjokroaminoto sehingga di film ini terkesan permukaan saja.

24. Terakhir, #Tjokroaminoto menjawab sendiri pertanyaannya tentang hijrah di atas, yaitu “Setinggi2 ilmu, sepandai2 siasat, semurni2 Tauhid”.

metallica

Dear Pak Jokowi,
Saya coba menulis surat pendek ini dengan merangkai lagu-lagu Metallica karena tahu Bapak adalah fans mereka. Tentu saja ini perspektif saya, sebagai Eye of the Beholder di awal pemerintahan.

Sad But True, 100 hari pertama Bapak menjadi Presiden, banyak hal yang membuat saya kurang nyaman. Mulai dari susunan kabinet yang ternyata banyak orang parpolnya, kenaikan BBM di saat minyak dunia turun, Wantimpres yang terkesan tempat balas jasa, mobil nasional yang ternyata bukan ESEMKA, dan konflik Polri dan KPK.

Yang terakhir ini membuat jantung kami berdegup kencang. Bagaimana tidak, dua lembaga penegak hukum saling serang. Keduanya seolah Jump in the Fire. Entah siapa Master of Puppets dari semua kejadian ini. Yang jelas mereka Some Kind of Monster yang harus di Creeping Death kan.

Hanya di masa Bapak, terjadi kriminalisasi besar-besaran pada pimpinan KPK. The Thing That Should Not Be. Yang kami cemaskan jika KPK lumpuh, maka akan menjadi sesuatu yang The Unforgiven dalam proses pemberantasan korupsi. Dan kita akan jatuh ke jurang Damage Inc. Jangan sampai kepercayaan rakyat menjadi Fade to Black ya Pak?

Harapan kami, Bapak sebagai orang nomor One di negeri ini harus berani melawan koruptor kakap yang tak henti-henti Seek and Destroy bangsa ini. Bapak mesti bisa mematikan Harvester of Sorrow berganti mesin penuai kebahagiaan. Terakhir Bapak mesti bisa Escape dari kepentingan pribadi, golongan dan partai.

Seperti apapun proses Pilpres kemarin, sudah Nothing Else Matters buat kami. Bapak sudah Presiden. Di pundak Bapak harapan rakyat Indonesia menjadi sejahtera, makmur, And Justice for All. Bangsa yang redup ini membutuhkan Battery untuk membuatnya kembali cerah. Secerah janji-janji Bapak waktu kampanye.

Demikian surat singkat ini. Saya bukan St Anger atau hater. Cuma rakyat biasa. Semoga Bapak tetap Ride The Lightning atas petunjuk Tuhan YME. Dan The Frayed Ends of Sanity.
Salam tiga jari, Pak Presiden!

noah bandBarangkali banyak yg #gagalpaham, kenapa Reza hengkang dari NOAH dan masuk Jamaah Tabligh?

Logikanya sederhana, kebahagiaan yang dia rasakan dlm mereguk Islam bersama JT melebihi puncak karirnya bersama NOAH.

Jutaan anak muda Indonesia saat ini baru bermimpi bisa seperti Reza ; populer dan kaya. Ternyata bagi Reza itu tak mampu hilangkan dahaganya

Lihatlah di tv2 kita orang berlomba2 mngejar popularitas dan kekayaan, dgn mengorbankan harga diri bahkan agama. Setelah itu didapat,apa?

Ada yang rumah tangganya hancur, terjerat narkoba, bahkan bunuh diri seperti artis2 Korea. Apa masalahnya? Barangkali mereka tertipu..

Disangkanya popularitas & kekayaan faktor utama bahagia. Malah kering jiwa. Akibatnya lari kpd kesenangan2 sesaat. Beruntunglah Reza..

Di tengah kering kerontang dunia selebritas, dia menemukan oase yang bernama Jamaah Tabligh

Dia mengikuti jejak senior2 nya. Berhenti saat dipuncak. Belajar agama bukan saat terpuruk : alm Gito Rollies, Sakti Sheila on 7.

Setahu saya banyak yg ikut JT dari kalangan yang secara hitung2an duniawi sudah jaya dan bahagia ; selebritas, pengusaha, manajer dsb

Tentu bukan keputusan yang mudah. Bedakan dengan orang2 yang mendadak religius ketika mendapat masalah.

Maka saya teringat seorang ulama salaf yang bernama Ibrahim bin Adham mengatakan, “Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui..

..bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan yang kami rasakan (dlm berIslam), tentu mrk akan berusaha merebutnya dari kami dgn pedang”

Sekian 

Sumber : http://www.pkspiyungan.org

Judul by admin piyungan

poster-resmi-assalamualaikum-beijing-407x600

Film Indonesia kini beragam. Salah satu yang pantas direkomendasikan pada awal tahun ini adalah #AssalamualaikumBeijing
Film #AssalamualaikumBeijing bergenre drama. Diadaptasi dari novel dgn judul sama karya Asmanadia. Temanya ; cinta
Tema umum sebenarnya. Namun menjadi istimewa karena ramuan konflik yg tdk biasa. Ditambah latar negeri China yg menawan.
Diawali konflik antara Asma (Reva) dan kekasihnya Dewa (Ibnu Jamil). Pernikahan mrk kandas krn perselingkuhan Dewa. Pembukaan yg menarik.
Kemudian Asma ke China, menjadi jurnalis. Bertemu Sekar (Laudia CB) dan suaminya yg sholeh Ridwan (Desta). Ada dialog2 ringan & lucu disini
Dan sebagaimana jamaknya roman percintaan yg byk berisi kebetulan2, Asma bertemu Zhongwen (Morgan) yg oleh Sekar dipanggil Chung-chung
Disini alur berjalan datar. Tapi tetap menarik karena seperti film dokumenter yg menggambarkan Islam di China
Emosi penonton mulai diaduk2 ketika Asma mulai ambruk. Sakit yg pada akhirnya didiagnosis menderita APS, penyakit autoimun yg menyebabkan..
darah mengental dan bergumpal. Sehingga beresiko terkena stroke, serangan jantung bahkan kematian
Nah, saran saya mulailah keluarkan tissue. Karena Anda akan dipancing emosinya dgn akting ciamik Revalina memerankan penderita APS
Dlm hal ini saya puji kru film #AssalamualaikumBeijing Sepertinya mrk riset dulu ttg APS. Mulai dari dokter, ruang ICU, fisioterapi dll
Berbeda dgn beberapa film Indonesia yg belepotan kaitan dgn dokter & RS. Ada yg infusnya gak netes, ada yg bs cakap2 saat pakai ventilator
Ending filmnya jg bagus menurut saya. Realistis, baik dari sisi logika maupun dari sisi medis. Salut buat mbak Asmanadia
Betapa cinta yang suci. Cinta yang murni. Cinta sejati. Mampu menguatkan. Mampu menghidupkan. Mampu menyembuhkan
Make up artisnya juga oke. Memudakan Reva dan menuakan Morgan sehingga mereka sepadan. Akting Morgan di film pertamanya ini keren bingit
Setahu saya Morgan bukan muslim, tapi dia fasih banget, terutama ketika bersyahadah (mdh2an dpt hidayah). Aktingnya mengimbangi Reva.
Laudya perankan Sekar yg “rame” & Korean Drama Minded. Desta perankan Ridwan yg kalem dan sholeh. Padahal genrenya komedi biasanya hehe
Dan terakhir, Jajang C Noer yg membuat saya pangling perankan Ibunda Asma. Jujur, Uni jadi tambah anggun ketika berjilbab loh :)
Jadi, selamat menonton #AssalamualaikumBeijing. Bagi Anda yg bawa istri seperti saya, baiknya siapkan tissue ya? Hehe

haji backpacker

1. Satu kata utk film Haji Backpacker ; KEREEEEENNNN…. :D
2. Film Haji Backpacker mengingatkan saya pada 2 hal : 1. Into the Wild-nya Chris McCandless 2. Perjalanan Asia-nya Mas @Gol_A_Gong
3. Awalnya saya kira #HajiBackpacker ini film tentang seseorang yg ingin naik haji dgn cara extraordinary yaitu backpackeran beserta kisah2 yg menyertainya
4. Dugaan saya salah. Film ini ternyata ttg pencarian seorang anak manusia kepada Tuhannya #HajiBackpacker
5. Tuhan yg dianggap sudah pergi meninggalkannya. Sampai2 seorang imam di Yunan, China harus menanyakan, “Apa agamamu?” #HajiBackpacker
6. Kesamaan #HajiBackpacker dgn Into the Wild adalah tentang ide “pencarian” yg dilatarbelakangi “luka” melalui sebuah perjalanan.
7. Makanya adegan klasik seorang pemuda, dengan tas ransel dan jeans belel menyetop mobil di pinggir jalan itu sama2 ada :) #HajiBackpacker
8. Kesamaan #HajiBackpacker dgn Perjalanan Asia-nya Mas Gola Gong itu pd rute2 yg dilalui ; Thailand, Vietnam, Nepal, India #HajiBackpacker
9. Film ini dimulai dgn sesuatu yg charming. Adegan Mada ( Abimana Aryasatya ) yg diinterogasi Mujahidin Iran #HajiBackpacker
10. Kemudian kehidupan gelap yg dijalani Mada di daerah Slum Thailand. Lengkap adegan perkelahian dan kejar2an. Seru! #HajiBackpacker
11. Saya puji akting Abimana memerankan Mada. Film ini tak terlalu byk dialog. Menarik juga memakai bahasa asli Negara-negara yg dikunjungi. Peran watak lebih dominan. Reza Rahardian punya saingan nih hehe
12. Cast yang main oke semua. Termasuk figuran2 di 9 negara yg dilalui. Paling oke tuh mujahid yg interogasi di Iran :) #HajiBackpacker
13. Di #HajiBackpacker mata anda akan dimanjakan dgn keindahan negara2 yg dilewati. Sinematografi yg keren. Gak kalah dgn film Brokeback Mountain
14. Nilai2 yg dibawa #HajiBackpacker mengalir dan tdk menggurui. Seperti saat ia berjumpa seorang guru Sufi di India
15. Seandainya saat dia berguru Sufi di India di iringi lagu Long Road-nya Eddie Vedder & Nusrat Fateh Ali Khan. Pasti lbh sedap #HajiBackpacker
16. Cuma satu yg agak menganggu saya. Yaitu animasi ketika Mada mimpi di atas balon udara. Terlihat gimanaa gitu.. #HajiBackpacker
17. Katanya travelling yg benar adalah yg tdk ada tujuannya. Mada begitu. Perjalanannya berakhir di Makkah Al Mukarramah #HajiBackpacker
18. Padahal tempat itu tak ada dalam planing awal perjalanannya. Lantas dmn Mada mnemukan (kembali) Tuhannya? Tonton sendiri ya.. :) #HajiBackpacker

***

Mindset

Tejo 2

1. Cari pengganti kata “Pemerintah” yg berarti tukang perintah. Ingat, di balik setiap kata adalah konsep, disadari/ tidak. #MindSet
2. Nuansa arti “Pemerintah” (tukang perintah) lbh dekat ke “Pangreh Praja”, bukan “Pamong Praja” yg dekat dgn “Government” #Mindset
3. Percuma Government berganti berkali2 dgn harapan lebih baik, bilah istilahnya saja keliru, yaitu “Pemerintah” #MindSet
4. Pusat Bahasa perlu ambil inisiatif, mengumpulkan ahli2 bahasa utk mencari kata ganti “Pemerintah” (Tukang Perintah” #MindSet
5. Ganti jg kata kurangajar kita kepada alam “Bencana Alam”, krn Alam tak pernah bikin bencana, alam cm mencari keseimbangan baru #MindSet
6. Bgmn kita akan hidup lebih baik, kalau dari tahunkke tahun tetap saja kurangajar pada alam, dengan istilah “Bencana Alam”? #MindSet
7. Gerakan mencari keseimbangan baru (Tsunami, longsor, letusan gunung dll) sy usul dinamai “Sabda Alam”..Sila kalau ada usul lain #MIndSet
8. Krn Gunung Meletus dll tak kita sebut bencana, tp sabda alam, mk usaha mengatasinya tak disebut Penanggulangan tp penyelarasan #Mindset
9. Kegiatan memindahkan warga dll tak kita sebut Menanggulangi Bencana Alam, tapi Menyelerasi Sabda Alam #MindSet
10. Kegiatan memindahkan penduduk dari gunung meletus tak kita sebut mengungsikan, tapi mengembalikan ruang dan waktu kepada alam #MindSet
11. Kata “Pemimpin” dan “Pimpinan” harus dibedakan terutama oleh media (Sama halnya Pecipta dan Ciptaan dll dll) #MindSet
12. “Pemimpin” dan “Pimpinan” bukan sama2 pemimpin tapi pimpinan kolektif kolegial..Tidak. Itu jauh bumi dari langit #MindSet
13. Contoh, menteri pimpinan (binaan, arahan, didikan) presiden, tapi presiden pemimpin (pembina, pengarah, pendidik) menteri #MindSet
14. Tak boleh lagi ada pers yg menulis si A mati karena Ini-itu ..Yg boleh, Si A mati setelah Ini-Itu, karena Umur di tangan Tuhan #MindSet
15. Di dalam bangsa yg religius, mestinya pangkat, rezeki, umur dan jodoh, dipasrahkan kpd kegaiban Tuhan #MindSet
16. Tulisan, “Si A Mati Karena Serangan Jantung” menafikan Tuhan. Lebih religius, “Si A Mati Setelah Serangan Jantung”. #MindSet
17. Bila tak percaya di balik setiap nama (Bencana, Pemerintah dll) adalah konsep, namai saja anakmu dengan Kecoa, Taek dll #MindSet

***

Kursi

kursi-dewan

 

Sebagai anak rantau, Bagindo termasuk sukses. Mulai merintis dari gerobak kaki lima, kini dia sudah punya tempat sendiri. Telah enam tahun dia berada di kota ini, dan tahun lalu dia telah berhasil membawa Rosma, kembang di desanya untuk mendampinginya sebagai istri.

Entah darimana awalnya Bagindo tertarik dengan politik. Di rumah makannya TV selalu menyala, dan mayoritas berita, kecuali kalau Rosma yang menunggu, pastilah diganti infotaintment atau sinetron. Bagindo sendiri langganan koran, meski koran lokal yang tak mahal harganya.

“Uda yakin mau nyaleg?”
“Yakin lah Ros..”
“Apa tidak ditunda dulu? Lebih baik uang itu kita pakai membuka warung baru”
“Tenang Ros, Uda sudah perhitungkan. Uang itu pasti terpakai, tapi kalau menang, sebulan pun bisa dapat uang sebanyak itu”

Sepertinya memang Bagindo terpengaruh dengan tampilan para politisi di media. Baju rapi, wangi, perlente, pakai jas, bicara teratur, dompet tebal, rumah dan kendaraan mewah. Semuanya sangat memukau Bagindo yang hanya lulusan SMEA.

Ketika Sudin, teman sekampungnya menawarkan dia nyaleg, seperti gayung bersambut.
“Tapi aku kan bukan orang partai Din?”
“Ah, tenang sajalah. Semua bisa diatur. Kebetulan saya kenal dengan ketua pemenangan pemilunya. Dan memang partainya akan membuka lamaran”
“Syaratnya apa saja?”
“Ijazah minimal SMA, dan tentu kau harus siapkan uang pendaftaran. Dan satu lagi, jika ingin dapat nomor urut kepala, harus ada pengeluaran lebih”
“Hmm.. Baiklah, nanti ambo pikirkan dulu”

Dan resmilah Bagindo menjadi caleg. Setelah menyelasaikan administrasi, tes kesehatan dan sedikit upeti, ia ditetapkan menjadi caleg dengan no urut 3.
“Din, kenapa saya dapat nomor leher, kau janjikan kepala?”
“Itu lah masalahnya, uang yang angku setor masih kalah dari yang dapat nomor kepala. Tapi tenang sajalah, sekarang kan sistemnya suara terbanyak”
“Oh ya, sudahlah kalau begitu. Sekarang angku bantu saya bentuk tim sukses”
“Beres..pertama kita data urang awak yang ada disini, lalu….”
Obrolan pun berlanjut sampai dinihari.

Semenjak jadi Caleg, waktu Bagindo mengurus warung makannya jauh berkurang. Pagi sudah keluar rumah, menjelang sore pulang. Kemudian berangkat lagi. Apalagi kalau bukan untuk kampanye meraup suara. Semua orang Minang perantauan dikunjungi, tokoh-tokoh masyarakat didatangi, dan sebagainya. Untunglah dia punya seorang Rosma, yang begitu sabar menggantikan peran suaminya, bahkan untuk belanja bahan masakan.

“Da, uang modal kita menipis. Besok harus belanja lagi ke pasar”
“Hah? Habis? Kenapa cepat betul habisnya?” suara Bagindo sedikit meninggi.
“Kan Uda sendiri yang pakai. Beli kaos, stiker, uang bensin, belum lagi orang-orang yang datang ke rumah. Habis lah Da” Rosma berusaha tersenyum menenagkan situasi.
“Kau sabar sajalah dulu, Uda kan sedang berjuang. Habiskan sajalah yang ada. Seminggu lagi Pemilu. Kalau menang, beres semua itu” kata Bagindo meyakinkan.
Seperti biasa Rosma hanya bisa meringis sembari menarik napas panjang.

Suatu hari datanglah seseorang yang mengaku “orang pintar” bertamu.
“Pokoknya Pak Bagindo tenang saja. Bapak pasti menang, asal syaratnya dipenuhi..”
“Apa syaratnya?”
“Satu hari sebelum pencoblosan, saya akan bertirakat untuk Bapak. Saya hanya perlu foto bapak dan beberapa sesaji. Tolong Bapak beli ini” kata orang pintar sembari memberi secarik kertas.

“Da, bukan kah itu syirik?”
“Ini ikhtiar Ros, syirik atau tidak itu kan tergantung niat”
“Tapi Da, kalau sudah pakai sesajian begitu kan..”
“Alah! Sudah! Jangan pula kau ikut campur! Kalau berhasil, kau juga yang senang..”
Lagi-lagi Rosma hanya bisa menarik napas panjang. Teringat pesan Abaknya sebelum merantau, “Ros, dua hal yang harus kau jaga, jangan tinggalkan sholat dan jauhi syirik”
Abak Rosma, Buya Hamdi adalah guru sekolah Muhammadiyah di kampungnya.

Sampailah ke hari pencoblosan. Dengan penuh keyakinan, Bagindo menuju TPS. Segala usaha telah dikerahkan. Baik usaha yang kelihatan, maupun bantuan orang pintar. Uang pun sudah banyak dikeluarkan.
“InsyaAllah kita menang Ros” ucap Bagindo seusai mencoblos.
“Amin..” jawab Rosma singkat. Entah kenapa hari itu hatinya justru tak tenang.

“Selamat Gindo, suara Angku paling banyak! Berdasarkan penghitungan manual C1 dari saksi” kata Sudin menyalaminya.
“Alhamdulillah..” Bagindo sumringah. Spontan ia sujud syukur. “Ros..Ros..kesini! Uda berhasil! Uda berhasil!”
Malam itu rumah Bagindo menjadi ramai. Tim suksesnya berdatangan. Juga para tetangga yang jadi tahu ia menang. Semua mengucapkan selamat. Tak lupa Bagindo memberi tahu orang tua dan sanak saudaranya di kampung. Terbayang kursi empuk, yang didudukinya dengan setelan jas rapi dan sepatu mengkilap. Rencananya saat pelantikan nanti, orang tua dan mertuanya akan diundang menghadiri. Sementara Rosma tak henti-henti berzikir, entah kenapa hatinya gelisah.

Maka datanglah hari dimana KPUD menetapkan pemenang. Bagindo, didampingi beberapa tim sukses menunggu di rumah. Sementara Sudin mengikuti pleno.
Dan sesuatu yang mengejutkan terjadi. Namanya tidak disebut sebagai anggota terpilih.
“Curang! Ini pasti terjadi kecurangan! Din, kenapa ini terjadi? Kau bilang suaraku paling banyak. Tapi kenapa kalah?”
“Mereka main mata dengan KPPS dan KPU, sehingga hasilnya diotak-atik lagi. Yang menang itu kabarnya masih punya hubungan saudara dengan Bupati” jawab Sudin lemah.
Bagindo bertambah gusar.

Sebuah sms masuk. Rupanya dari ketua DPC partai yang mencalonkannya. “Saudara Bagindo, harap saudara menerima keputusan KPU meski tidak sesuai hitungan internal partai. Ini sudah diluar kuasa kami, kalau saudara melawan akan merugikan saudara dan keluarga. Salam “

Bagindo naik pitam. Badannya menggigil menahan amarah. Dia merasa dicurangi. Braakkkk!!! Dilemparnya HP, digebraknya meja tamu, ditendangnya kursi. Bagindo mengamuk sejadi-jadinya. Terbayang rasa malu kepada keluarganya dan orang kampung yang sudah mengadakan syukuran. Apa yang hendak dia katakan? Tiba-tiba kepalanya sakit luar biasa, bumi terasa berputar. Dunia menjadi padam, dan Bagindo terjatuh.

Pagi itu Bagindo terbangun. Dia tidak tahu sama sekali dimana berada dan sudah berapa lama di tak sadar. Melihat dinding yang didominasi warna putih, cairan infus dan hidung terpasang oksigen, barulah sadar bahwa ia sedang berada di RS.
“Uda! Alhamdulillah…uda sadar..” Terdengar suara yang begitu dikenalnya, Rosma.
Bagindo ingin berbicara, tapi dirasakan lidahnya kelu. Begitu berat untuk berucap.
“Uda..uda sudah 3 hari tidak sadar. Kita sedang di RS. Alhamdulillah sekarang Uda membuka mata..” Ros memegang tangannya sambil terisak.
“Aaa..rrrrr…sssss…”
Hanya itu yang keluar dari mulut Bagindo. Dicobanya bergerak tapi tangan dan kakinya sebelah kanan begitu lemah, seolah dia tak punya tangan dan kaki sama sekali.

Barulah dia paham setelah dokter datang menjelaskan bahwa ia terkena stroke. Teringat terakhir sebelum semua gelap, kemarahannya. Sakit hatinya dicurangi. Kembali dia ingin berteriak. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata yang tidak jelas. Akhirnya air mata lah yang mengalir deras. Bagindo menangis, meraung. Beberapa kali dokter dan perawat datang menenangkannya. Terkadang, mereka menyuntikkan sesuatu ketangannya, yang membuat matanya tiba-tiba menjadi berat.

Hampir satu bulan lamanya Bagindo dirawat di Rumah Sakit. Perlahan-lahan dia sudah mulai bisa jalan, meski dipapah atau menggunakan walker. Bicaranya pun mulai bisa dimengerti meski pelo. Dan Rosma, istrinya yang sholehah itu begitu setia dan sabar menunggunya, sekaligus mengganti perannya sebagai kepala rumah tangga.

Hari ini dokter sudah perbolehkan Bagindo pulang. Sesampainya di rumah, Rosma memapah Bagindo berjalan ke rumah makan. Di meja kasir, ia menggeser kursi.
“Duduk lah Uda. Inilah kursi Uda yang sebenarnya,” kata Rosma.
Bagindo tersenyum kecut. Ia duduk. Barangkali Rosma benar, inilah kursinya yang sejati. Entah kursi di gedung dewan sana.

***

Keterangan :
Ambo : Saya
Angku : Kamu, ucapan pada sebaya
Urang Awak : orang Minang
Walker : alat bantu jalan penderita stroke

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.