bahagia dengan berbagi

Makzul

Raut muka Datuk Selo akhir-akhir ini berubah.Usianya yang menapaki senja semakin tergambar oleh kerutan kening dan rambut memutih.Senyumnya yang dulu selalu terkembang berubah menjadisenyum yang dipaksakan.

Sudah beberapa hari ini Kerapatan Adat Nagari (KAN) di kampung kami terlihat ramai.Setiap malam para Datuk yang merupakan perwakilan 9 suku di kampung kami bermusyawarah membahas satu hal: Apakah kepemimpinan Datuk Selo dilanjutkan atau dilakukan pemakzulan.

Datuk Selo menjabat Kepala Nagari kami untuk kedua kalinya. Kali pertama ia berhasil menyingkirkan Datuk Panduko,sang incumbent, melalui voting anggota KAN. Datuk Selo menang tipis 5 – 4. Di kampungku jabatan untuk Kepala Nagari selama 4 tahun dan dapat dipilih kembali sampai mati.

Seiring dengan demam reformasi,mala cara pemilihan kepala Nagari di kampung kami berubah,yakni pemilihan langsung.Setiap kandidat diharuskan berkampanye menarik simpati warga. Dan hasilnya,Datuk Selo kembali terpilih untuk kedua kalinya dengan meraih 75% suara mengalahkan Datuk Sati meraih 20% serta Asrul,sarjana pengangguran yang hanya meraih 5% saja.

Baru sebulan dilantik,Datuk Selo sudah diterpa isu tak sedap.Ia dituduh telah menjual tanah adat kepada seorang pengusaha perkebunan asal Medan.Secara geografis letak kampung kami berbatasan engan propinsi Sumatera Utara.

Entah darimana isu berasal. Yang jelas,semakin lama semakin menjadi buah bibir masyarakat di pakan*,lapau*,bahkan arena sabung ayam. Mungkin cuma Surau Gadang* saja yang bebas dari gonjang-ganjing ini.Bukan apa-apa,karena jamaahnya tinggal Mak Labay yang merangkap sebagai muadzin,imam sekaligus penjaga masjid.

Tentu saja isu ini membuat Datuk Selo menjadi gundah.Segera ia membentuk tim untuk menginvestigasi dari mana isu ini berawal. “Ameh,kamu saya tunjuk sebagai ketua tim.Tolong cari siapa dalang isu ini!” perintah Datuk Selo. Sutan Ameh,pria berkumis tebal itu,adalah tangan Datuk Selo. Track Recordnya pernah menjadi ketua tim sukses kampanye Datuk Selo .

Setelah satu minggu,Sutan Ameh melaporkan hasil invetigasinya.”Ondeh Datuk,susah betul saya menemukan dalangnya.Siang malam memasang telinga membuka mata,tapi hasilnya tidak ada”,kata Sutan Ameh lemah.

Mendengar itu,wajah Datuk Selo menegang”Braaaak!!!! Kalera!!! apa saja kerja kalian hah! Sudah habis uang saya membiayai kalian,tapi mana hasilnya?” teiaknya sambil menggebrak meja. “I..i…i.. ya Datuk,kami sudah berusaha” jawab Sutan Ameh ketakutan.

Tiba-tiba Datuk Selo meringis,tangannya memgang dada sebelah kiri,kemudian duduk dengan napas tersengal.”Idar…idar..tolong ambil obat uda di atas meja!”perintahnya pada sang istri. Dari kamar Syamsidar membawa obat dan segelas air.”Pulanglah kalian!”perintahnya pada Sutan Ameh cs setelah meminumkan obat.

Sementara itu,isu berkembanng semakin panas.Hal ini membuat KAN menggelar musyawarah.”Situasi kampung kita sudah tidak kondusif,warga banyak yang mempertanyakan kasus Datuk Selo ini. Apa yang harus kita lakukan?”tanya Datuk Parpatih membuka percakapan.”Betul,kita harus menyelesaikan masalah ini,kalau tidah kampung kita bisa perang saudara” kata Datuk Kayo. Dan musyawarah pun dimulailah.

Hasilnya, KAN akan memanggil orang-orang yang berkaitan dalam kasius ini,termasuk Datu Selo sendiri tentunya.Secara bergantian selam sepekan para saksi yang memberatkan maupun yang meringankan dipanggil.

Malam menjelang keputusan,Datuk Selo mengumpulkan orang-orangnya di rumah.”Ameh,sudah berpa orang anggota berhasil kau suap?”tanya Datuk Selo.Rupanya ia telah menyuruh orang untuk menyuap anggota KAN supaya keputusan nanti memihak padanya.”Maaf Datuk,saya cuma bisa membujuk dua orang,itu pun dengan penawaran tertinggi.Sedangkan yang lain tidak bisa saya temui karena dijaga kaumnya.Sepertinya mereka mencium strategi kita”jawab Sutan Ameh.

Mendengar jawaban itu,wajah Datuk Selo kembali menegang.”Ondeh mandeh,bagaimana lagi caranya?” kata Datuk Selo sambil menepuk keningnya.Alhasil malam itu menjaadi malam mencekam.Hingga jam 12 malam wajah orang-orang di rumah itu tidak tenang.

“Pulang lah kalian!”,perintah Datuk Selo memcah kesunyian.Sementara jam dinding berdeting sebnayak 2 kali menandakn jhari sudah sangat larut.
Dengan langkah gontai Datuk Selo masuk ke kamarnya.

Sampailah di hari penentuan. Datuk Selo terbangun karena dari luar rumah terdengar kermaian.Dari jendela kamar,lamat-lmat ia melihar warga desa ramai menuju rumahnya sambil berteriak,Makzul!! makzul!! makzul!! Teriakan itu semakin keras ketika ia melihat wajah Datuk Parpatih dan anggota KAN lainnya ada di situ.Bruk!!! tiba-tiba tubuh tambunnya jatuh. Tak ada yang mendengar, karena Syamsidar sedang di dapur.

“Assalamalaikum!!” pintu rumah diketuk.”Waalaikumsalam”Syamsidar membuka pintu.”Mana Datuk Selo? tanya Datuk Parpatih.”Masih di kamar Datuk,semalam dia tak bisa tidur”jawab Syamsidar.Bergegas dia ke kamar.Sementara di luar rumah teriakan makzul..makzul masih terdengar.”Udaaa..banguuuun!!!”terdengar teriakan Syamsidar dari dalam kamar dengan nada cemas. Spontan para tamu masuk kekamar. Betappa kaget mereka melihat tubuh Datuk Selo terbujur kaku dengan mulut berbusa.

“Panggil si Mantari*!”perintah Datuk Parpatih. Tak berapa lama orang yang dipanggil Mantari datang.Segera ia memeriksa dada dan menyenter mata sang Datuk.”Innalillahi..Datuk Selo sudah meninggal” katanya. Spontan mendengar itu Syamsidar berteriak histeris,”Udaaaaa….kenapa bisa jadi begini?’ Orang-orang sekitar berusaha meneneangkan Syamsidar.

Hari itu adalah terakhir bagi Datuk Selo memimpin kampung kami.Sebetulnya ia bisa saja melanjutkan kepemimpinannya,krena musyawarah KAN memutuskan ia tidak bersalah. Sedangkan teriakan makzul yang ia dengar bukanlah makzul dalam arti pelengseran,tapi Zulbahri,perantau sukses yang biasa dipanggil Mak* Zul,mudik sambil membagi-bagikan uang,sehingga dikerubuti warga.

Keterangan :

pakan : pasar
lapau : warung
surau gadang : masjid jami’
kalera : kurang ajar
ondeh mandeh : aduh ibu
Mantari : perawat
Mak :mamak :paman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: