bahagia dengan berbagi

Visi Kematian

“Seperti apakah cara kematianmu ingin dikenang Jenderal?”, tanya Panglima Tarish kepada Jenderal Backler yang kelihatan tertunduk lesu, ketika mengetahui jumlah pasukan Krug 20 kali lipat daripada pasukan yang ia pimpin. Jenderal Backler tersentak, kemudian menaiki kuda dan mengacungkan pedangnya. Tanpa menjawab pertanyaan Panglima Tarish ia langsung memberi komando pasukan Kerajaan Ehb untuk bersiap-siap. Pada akhirnya Jenderal Buckler menemui ajalnya, sebagai jawaban dari pertanyaan Sang Panglima. Kisah ini diambil dari film “In The Name Of The King”.

Penulis buku best seller Stephen R Covey dalam buku 7 habits menulis bahwa kita harus memiliki visi dalam hidup. Caranya adalah dengan membayangkan ketika kita berada dalam sebuah peti mati. Dan disaat orang-orang memberi kesaksian tentang kita, apakah yang ingin kita dengarkan? Itulah yang hendaknya menjadi visi kita, demikian kata Covey.

Sebagai seorang dokter saya sering melihat proses kematian. Ada yang meninggal dalam keadaan sendiri tanpa ditemani oleh saudara, ada juga yang meninggal dikelilingi oleh orang-orang tercinta, kerabat bahkan tetangga.

Dalam proses kematian saya melihat ada yang meninggal dengan tenang, ada yang setelah berteriak kesakitan, ada yang menempuh proses koma yang begitu panjang. Ada yang meninggal dalam keadaan bersih rapi, ada juga yang meninggal dalam keadaaan berdarah-darah atau mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuh.

Reaksi keluarga terhadap kematian pun saya lihat berbeda. Ada yang diiringi tangisan dan teriakan histeris namun sama sekali tidak mendoakan orang yang meninggal. Ada pula yang tenang, ikhlas sambil mendoakan orang yang meninggal. Ada juga yang seolah-olah lega dengan meninggalnya seseorang. Namun dalam hal ini saya tidak mau berprasangka atas kelegaan tersebut.

Dalam proses penguburan juga berbeda. Ada yang meninggal diiringi kerabat terdekat, namun ada pula yang diiringi ratusan bahkan ribuan orang yang mencintai. Yang tragis ada yang meninggal tanpa diketahui kuburannya.

Begitulah kematian, ia pasti akan datang menjemput kita. Masalahnya kita tidak pernah tahu kapan, dimana dan dengan cara apa dia datang. Untuk itulah kita perlu punya visi tentang ini. Sehingga kita bisa mempersiapkan diri dari sekarang.

Kalau ditanya ke saya seperti apakah visi saya maka saya akan menjawab,”saya ingin dijemput ketika mulut ini mengucapkan namaNya”. Dan kalau ditanya seperti apa saya ingin dikenang maka akan kujawab,” semoga istri dan anak-anakku mengenangku sebagi orang yang bertanggung jawab, baik dan jujur…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: