bahagia dengan berbagi

Rabindranath Tagore

Tukang Kebun

Lirik 26

“Apa yang datang dari tanganmu rela,kuterima. Aku tak minta apa pun lagi.”

“Ya,ya,kutahu kau,Pengemis Sopan,kauminta segala yang kupunya.”

“Jika ada bunga yang tersasar untukku,mau aku memakainya di hatiku.”

“Jika ada duri?”

“Mau aku menahan deritanya.”

“Ya,ya,kutahu kau,Pengemis Sopan,kauminta segala yang kupunya.”

“Jika pun hanya sekali akan sudi kau membukakan matamu jelita memandang wajahku,akan cukuplah itu membuat hidupku manis sesudah mati.”

“Tetapi jika hanya pandang yang bengis dan kejam?”

“Mau aku membiarkannya menusuki hatiku.”

“Ya,ya,kutahu kau,Pengemis Sopan,kauminta segala yang kupunya.”

 

Lirik 30

Engkau awan senja yang melayang di langit mimpi-mimpiku.

Kulukis engkau dan kubentuk engkau selalu dengan rindu kasihku.

Engkau  punyaku,punyaku,Penghuni dalam mimpi-mimpiku yang tak berwatas!

Kakimu merah mawar karena nyala gairah hatiku,Pemungut nyanyi senjaku!

Bibirmu sedap-pedih karena rasa anggur kesedihanku.

Engkau punyaku,punyaku,Penghuni dalam mimpi-mimpiku yang sunyi!

Dengan bayang-bayang nafsuku telah kukelamkan matamu,Pemburu lubuk pandangku!

Telah kutangkap engkau dan kulihat engkau,Kekasihku,dalam jaring musikku.

Engkau punyaku,punyaku,Penghuni dalam mimpi-mimpiku yang tak kunjung mati!

 

Lirik 31

Hatiku,burung rimba raya itu,mendapatkan langitnya di matamu.

Matamu itu buaian pagi,ia kerajaan bintang-bintang.

Nyanyian hilang di dalamnya

Biarlah aku terbang membumbung di langit itu,dalam keluasannya yang sunyi,tak berwatas.

Biarlah aku menguakkan awannya dan mengambangkan sayap di sinar suryanya

 

Lirik 47

Jika demikian kehendakmu,aku akan berhenti bernyanyi.

Jika membuat hatimu berdebar,aku akan mengalihkan mataku dari wajahmu.

Jika menyebabkan jalanmu tertegun tiba-tiba,aku akan menyisi dan mengambil jalan lain.

Jika mengacaukan hatimu dalam merangkai bunga,aku akan menjauh dari kebunmu sunyi.

Jika menyebabkan air bertingkah dan ganas,aku tak akan mengayuh bidukku menyusuri tepi sungaimu.

 

Lirik 50

Kekasih,siang dan malam hatiku rindu akan pertemuan denganMU,akan pertemuan yang laksana maut menelan segala.

Halaukan aku bagai topan,ambil segala kupunya,koyakkan tidurku dan rampas impianku. Rebut aku dari duniaku.

Dalam kesirnaan itu,dalam ketelanjangan jiwa yang sempurna,biarlah kita menyatu dalam keindahan.

Alangkah sayangnya hasratku yang sia-sia! Dimanakah harapan akan menyatu ini  kalau tidak dalam diriMu,Tuhanku?

 

Lirik 52

Mengapa padam lampu itu? Kunaungi dia dengan bajuku untuk kuselamatkan dari angin. Itulah sebabnya mengapa padam lampu itu.

Mengapa layu bunga itu? Kutekankan dia kehatiku dengan kasih yang cemas,itulah sebabnya mengapa layu bunga itu.

Mengapa kering sungai itu? Kulintangkan bendung di sana untuk kuambil gunanya bagiku,itulah sebabnya mengapa kering sungai itu.

Mengapa putus  tali kecapi itu? Kucoba memaksakan bunyi yang ada di luar kemampuannya,itulah sebabnya mengapa putus tali kecapi itu.

 

Lirik 58

Suatu pagi dalam kebun bunga seorang gadis buta datang memberikan untaian bunga kepadaku,dalam bungkus daun seroja.

Kukalungkan untaian bunga itu di leherku,dan berlinanglah airmataku.

Kucium dia dan kataku,”Engkau buta seperti bunga-bunga itu pula. Engkau sendiri tidak tahu betapa indahnya pemberianmu.”

 

Lirik 69

Aku berburu kijang kencana. Kau boleh tersenyum, Kawan,tetapi aku mengejar angan-angan yang terlucut lepas meninggalkan aku.

Aku berlari melalui bukit dan lembah,aku mengembara melintasi negeri-negeri tak bernama,karena aku berburu kijang kencana.

Kau datang dan berbelanja di pekan dan pulang ke rumah,penuh membawa  barang-barangmu;tetapi pesona angin yang tak bersarang telah menyentuhku,tak tahu aku kapan dan dimana.

Tak ada cemas dalam hatiku;segala milikku kutinggalkan jauh di belakangku.

Aku berlari melalui bukit dan lembah,aku mengembara melintasi negeri-negeri tak bernama,karena aku berburu kijang kencana.

 

Lirik 75

Pada tengah malam orang yang menamakan diri pertapa itu memaklumkan: “Tibalah saatnya kini meninggalkan rumahku dan mencari Tuhan.Akh, siapakah yang telah menahan aku demikian lama dalam kesesatan di sini ini?”

Tuhan berbisik,”Aku,” tetapi telinga orang itu tersumbat.

Dengan seorang bayi  nyenyak dekat dadanya terbaringlah istrinya di sisi sebelah bali-bali itu.

Orang itu berkata,”Siapa kalian berdua ini yang telah mempermainkan aku demikian lama?”

Suara Tuhan besabda lagi,”Meeka itu Tuhan,” tetapi orang itu tidak mendengar.

Si bayi berteriak-teriak mengigau sambil merapat kepada ibunya.

Tuhan bertitah,”Tutup mulut,Pandir,jangan tinggalkan rumahmu,”tetapi orang itu tetap juga tak mendengar.

Tuhan mengeluh dan berkesah,”Mengapa hambaKU mencari Daku,meninggalkan Daku?”

 

Lirik 78

Waktu itu dalam bulan Mei. Tengah hari yang gerah itu seperti tak berakhir lamanya. Bumi yang kering menganga dahaga di panas terik.

Ketika itu kudengar dari tepi sungai suara berseru,”Mari Cintaku!”

Aku menutup buku dan membuka jendela memandang ke luar.

Kulihat seekor kerbau besar,kulitnya berlumur lumpur,berdiri dekat sungai dengan mata yang sabar tenang,dan seorang anak muda,berendam di air hingga lututnya,memanggil kerbau itu ke tempat pemandiannya.

Aku tersenyum,girang dan kurasa sebuah jamah keindahan dalam hatiku.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: