bahagia dengan berbagi

Tentang Pilkada DKI

 

 

 

 

Cegah Praktik Machiavelli

Sudah masa tenang. Tapi Pemprov DKI msh kampanye lewat iklan layanan masyarakat. Mana Panwaslu?

Semestinya media berperan lebih jauh dlm demokrasi. Misal, menolak iklan terselubung yg menguntungkan calon tertentu

Dalam demokrasi, selain hasil berupa kekuasaan, prosesnya juga penting. Bahkan dlm proses itulah integritas seorang politisi diuji

Godaan kekuasaan dan uang begitu menggoda, jika terpedaya maka menghalalkan segala cara

Jika proses demokrasi cacat, dapat dipastikan hasilnya pun cacat. Alih-alih kesejahteraan, rakyat hanya makin melarat !

Sama seperti dokter yang salah ngasih obat,karena salah dalam proses anamnesis, pemeriksaan fisik,lab dll

Pengalaman pribadi saya. Pemilu 2009 kami kekurangan 300 suara untuk mendapatkan 1 kursi di daerah pemilihan

Malam sebelum penghitungan di KPUD, tiba2 mendapat telepon dari seseorang dari parpol tertentu menawarkan suara tambahan,supaya bisa menang

Tentunya tak ada yang gratis dari tawaran ini.Intinya jual beli suara lah. Kami hampir tergoda.Setelah dirapatkan dgn tim,tawaran kami tolak

Kalau sekadar memikirikan kursi, tentunya tawaran ini kami terima. Toh parpol lain tak ada yg tahu. Praktik seperti ini biasa kok..

Namun kami sadar bahwa bukan itu tujuan kami berpolitik. Tidak sekadar kekuasaan. Proses itu juga penting untuk pembelajaran

Belakangan saya ketahui dari sumber terpercaya, ternyata parpol tertentu beli suara,sehingga kami yang seharusnya dapat kursi terpental

Begitulah resiko berdemokrasi. Tapi seharusnya KPUD,Panwas dan media juga harus jadi wasit yang baik. Jika tidak, outputnya akan busuk

Mari semua timses bersatu ‘tuk kikis habis praktik Machiavelli dalam Pilkada DKI!

 

Menolak Lupa

Tahun 2007,hari H pencoblosan Pilgub DKI Jakarta saya beli koran

Saya kaget, di dalam sebuah koran ibukota yg berharga 1000 ada sisiipan tabloid, namanya Jakarta untuk Semua (JuS)

Tabloid sispan ini lebih keren tampilannya daripada harian itu sendiri, full color

Setelah saya baca, isi tabloid JuS tak lebih sekadar fitnah dan black campaign  kepada Adang dan PKS. Intinya menakut-nakuti masyarakat bahwa..

.jika yg terpilih Adang, maka hilanglah ketentraman di Ibukota. Karena yg mengusungnya,PKS adalah partai bikinan NII dst..dst

Tak lupa disebutkan disitu supaya masyarakat sebaiknya memilih Foke,karena yg mengusung banyak partai. Simbol keberagaman

Dan akhirnya Foke menang. Tapi yang bikin saya heran,tidak ada tindakan apapun dari Panwaslu terhadap peredaran tabloid ini

Padahal diedarkannya di masa tenang. Sama dengan sekarang, iklan layanan masyarakat Pemda DKI yg semakin gencar jelang pencoblosan

Menurut  saya peredaran tabloid JuS jelang pencoblosan ini berpengaruh, karena menurut sebuah riset masih banyak pemilih yang menentukan pilihannya pada Hari H, bahkan saat di TPS

Karena memang dibuat untuk Black Campaign, saya tidak menemukan kembali tablod tersebut pasca pilkada

Apakah timses Foke akan menggunakan cara yang sama besok? Mari kita lihat. Semoga seluruh timses lebih waspada!

Sekian

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: