bahagia dengan berbagi

 

 

 

 

Bu Tini punya sepasang anak kembar identik. Namanya Tono dan Toni. Meski kembar identik,keduanya memeliki sifat yang bertolak belakang. Tono memiliki sifat manja, malas dan sedkit bandel. Sedangkan Toni adalah anak yang mandiri,rajin dan penurut. Bu Tini dan suaminya sudah berusaha agar kasih sayang tehadap si kembar ini sama. Namun, secara manusiawi tetap mereka lebih sayang kepada Toni. Begitu juga dengan teman-teman dan guru-guru mereka di sekolah, mayoritas lebih respek kepada Toni.

Senin esok ujian naik kelas 3 SMU. Seperti biasa, sehari menjelang ujian Tono sudah uring-uringan. Karena kebanyakan maen,sehingga untuk ujian Tono belum siap sama sekali. Tak ayal seisi rumah pun kelabakan. Tono yang manja, minta ibelikan ini itu untuk persiapan begadang nanti malam. Sedangkan Toni, karena sudah dipersiapkan dari awal, biasa saja. Tidak tampak sedikit pun kegelisahan di wajahnya.

Besoknya, keduanya berangkat sekolah. Dengan wajah kuyu karena begadang semalam., sepanjang perjalanan Tono masih saja komat-kamit menghapal pelajaran. Sekali-kali ia menepuk keningnya jika ada yang terlupa. Sedangkan Toni berangkat dengan muka segar. Ia kelihatan begitu yakin bisa ‘melumat’ soal-soal ujian. Menjelang bel berbunyi,terlihat berkali-kali Tono bolak-balik ke wc,saking tegangnya. Kriiiiing!!! Bel pun berbunyi dan ujian pun dimulai.

Sudah bisa ditebak, hasil ujian Tono jeblok. Ia ditanyakan tidak lulus sehingga harus mengulang satu tahun lagi. Kebalikannya Toni, lulus dengan mendapatkan angka tertinmggi di kelasnya. Ketika menerima rapor, hati Bu Tini cmpur aduk. Di satu sisi ia bangga dengan prestasi Toni,namun di sisi lain ia sedih karena Tono tidak naik kelas..

Hidup adalah rangkaian estafet ujian yang merupakan keniscayaan sebagai hamba. Ketika lepas dari satu ujian, maka akan timbul ujian yang baru. Ini adalah sunnatullah yang termaktub dalam AlQuran ( baca Al-Baqarah :214,Ali Imran : 142, Al Ankabut :2-3). Namun, Allah SWT menjamin bahwa besarnya ujian tersebut sesuai dengan kemampuan hambanya (baca QS.Al Baqarah : 286).

Artinya, setiap ujiannya itu ada takarannya. Dan takaran itu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing hambaNya. Pertanyaannya adalah sejauh mana kesiapan kita dalam menghadapi ujian tersebut. Dari kisah di atas kita petik pelajaran bahwa secara fitrah sebetulnya Tono mampu lulus ujian naik kelas. Tetapi karena tidak disiapkan dari awal, dan hanya belajar dengan sistem kebut semalam,gagallah dia. Berbeda dengan Toni yang jauh-jauh hari telah bersiap. Sehingga ketika ujian itu datang,ia menghadapi dengan tenang dan lulus dengan nilai sempurna.

Kita tidak bisa menebak kapan dan dimana ujian menimpa kita. Namun yang paling penting kita lakukan saat ini adalah mempersiapkan diri. Ya, mempersiapkan diri kita terhadap ujian-ujian yang diberikan Allah terhadap kita. Dan tentunya berusaha ‘menikmati’ prosesnya.

Wallahualam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: