bahagia dengan berbagi

 

 

 

 

 

Pagi itu suasana SD Negeri Kebun Salak kelihatan lebih ramai. Rupanya para orang tua murid kelas satu juga diundang dalam acara “Cita-citaku”. Acara ini adalah tradisi dari SD unggulan ini setiap tahunnya. Dimana para orang tua murid kelas satu diundang untuk melihat anak-anak mereka mengikrarkan cita-cita mereka. Tujuannya tentu agar para orangtua dapat membantu sang anak mewujudkan cita–cita tersebut. Istimewanya lagi acara ini langsung dipandu oleh Bu Tati, kepala sekolah SD tersebut.

“Nah,ibu-ibu dan bapak-bapak, marilah kita dengarkan cita-cita dari anak-anak kita. Dimulai dari Ari Alifudin…” kata Bu Tati mengakhiri sambutannya. Seorang anak laki-laki yang bernama Ari maju ke depan kelas. Setelah menengok kanan kiri, dengan malu-malu Ari berkata,”Cita-citaku ingin jadi dokter,karena aku bisa menolong orang yang sakit. Kata Ibu, jadi dokter itu enak, duitnya juga banyak, jadi Ayah ga perlu pinjam uang koperasi untuk biaya masuk sekolah!” Sontak seluruh isi kelas tertawa mendengar ucapan Ari yang polos itu. Sementara, Mamanya Ari hanya mesem-mesem mendengar ucapan anaknya. Rupanya tanpa sengaja Ari mendengarkan percakapan ia dengan Tarno suaminya yang berprofesi sebagai PNS rendahan di Pemda Jakarta Selatan.

Satu persatu akhirnya para murid maju ke depan. Macam-macam cita-cita yang mereka sebutkan. Ada yang ingin jadi insinyrur,tentara,guru bahkan artis sinetron. Ruang kelas pun riuh dengan gelak tawa dan tepuk tangan orangtua. Bu Tati yang sangat berpengalaman itu rupanya berhasil mengendalikan suasana.

Sampailah pada giliran Tegar. Sesuai dengan namanya, anak ini berperawakan tegap sedikit gempal. Rambutnya dipotong pendek seperti tentara. Tingginya di atas rata-rata anak yang lain. Dengan gagahnya dia maju ke depan. ” Cita-citaku ingin jadi Teroris!!!” katanya sedikit berteriak. Tiba-tiba seisi ruangan hening. Semua kaget tak terkecuali ibunya Tegar. Mereka semua seperti dikejutkan oleh petir di siang hari pada langit yang cerah. Karena mayoritas masih dihantui peristiwa bom di JW Marriots dan Ritz Carlton. Memang jarak kedua hotel tersebut dengan sekolah mereka tidak terlalu jauh. Setelah hening sejenak, kelas kembali riuh bahkan sedikit gaduh oleh komentar ibu-ibu yang lain.

“Tenang..tenang…!! kata Bu Tuti berusaha mengendalikan suasana. Ia beranjak dari tempat duduknnya, kemudian merangkul pundak Tegar sambil berjongkok. ” Tegar, kenapa cita-citamu ingin jadi teroris nak? katanya lembut sambil tersenyum. Seisi kelas kembali hening, penasaran dengan jawaban Tegar. Dengan tenangya Tegar berkata,”Aku ingin jadi teroris karena aku ingin dikejar-kejar Papa. Belakangan ini Papa jarang di rumah karena katanya ingin mengejar teroris. Bahkan perayaan ulang tahunku 1 minggu yang lalu jadi batal gara-gara Papa dipanggil oleh komandannya. Padahal aku sudang mengundang teman-teman. Aku heran, kok Papa tega amat batalin ulang tahunku gara-gara mengejar teroris. Berarti teroris itu hebat sekali. Makanya aku ingin jadi teroris aja biar Papa ga batalin ulang tahunku..”

Seketika seisi kelas kembali ramai oleh tawa para orang tua. Rupanya alasan Tegar ingin jadi teroris sederhana, supaya Papanya tidak membatalkan ulang tahunnya. Setelah ditanya kepada Ibunya tegar, ia berkata memang suaminya jarang di rumah, karena ia adalah anggota Densus 88.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: