bahagia dengan berbagi

Tentang Kumis

 

 

 

Ini cerita mengenai kumis. Bagi sebagian pria, kumis adalah salah satu eksistensi kejantanan. Tak heran banyak kaum hawa kesengsem pada seorang pria karena kumisnya. Seorang Dorce sangat kesengsem dengan Andi Malarangeng karena kumisnya yang hitam lebat. Banyak lagu, mulai dari dangdut hingga pop yang membicarakan “keindahan” kumis seorang lelaki.

Secara fisiologi kumis merupakan tanda seks sekunder pada pria yang dirangsang oleh hormon testosteron. Pertumbuhannya seiring dengan perkembangan bentuk tubuh, pertumbuhan dan perkembangan alat genital, pembesaran laring dan penebalan pita suara.

Kumis merupakan representasi seseorang. Waktu kecil kita mengenal tokoh Pak Lurah yang berkumis tipis dan Pak Raden yang berkumis tebal dalam Si Unyil. Ada komedian Charlie Chaplin yang berkumis hanya pada bagian tengah bibir. Ini banyak ditiru oleh komedian Indonesia seperti Asmuni Srimulat. Sang Fasis Jerman, Hitler juga memiliki kumis khas yang rada-rada mirip Charlie Chaplin. Ada juga kumis yang dibiarkan tumbuh hanya pada ujung-ujung bibir, seperti kumisnya komedian Gepeng. Di madura, para jawara di sana senang memelintirkan ujung kumisnya keatas agar kelihatan lebih berwibawa dan tentunya lebih serem. Kebalikannya di daratan China, ujung kumis dibiarkan panjang menjuntai kebawah. Bahkan ada pemain sinetron kita bernama Opie Kumis.

Ayah saya, yang juga memelihara kumis memanfaatkannya sebagai saringan ketika minum teh. Saya sendiri  awalnya tidak berkumis. Alasannya, istri saya lebih senang kalau saya klimis. Tapi setelah negosiasi panjang,akhirnya diijinkan juga asal rapi.

Kumis juga bisa menjadi simbol identitas kuliner. Di tempat saya kalau ingin memakan soto yang enak datanglah ke soto Pak Kumis. Di daerah lain juga banyak yang seperti itu. Ada Bakso Mas Kumis, ada sate bang kumis, dll.

Ternyata di Indonesia kumis pun bisa diseret ke ranah politik, seperti anak-anak pejabat dan selebriti. Ketika Pilkada DKI lalu, Fauzi Bowo membuat brain image dengan “coblos kumisnya”. Dan strategi ini terbukti cukup berhasil pada Pilgub 2007. Namun di tahun 2012 ini karisma kumis tampaknya kurang moncer. Bisa karena  ada calon lain Alex Noerdin  yang  berkumis tipis, atau kalah pamor dengan baju kotak-kotak. Apakah Foke mampu mengangkat kembali pamor kumisnya di putaran kedua? Kita lihat saja nanti!

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: