bahagia dengan berbagi

Sajak – Sajak Rendra

 

 

 

 

 

Hai,  Ma!

 

Ma, bukan maut yang menggetarkan hatiku

tetapi hidup yang tidak hidup

karena kehilangan  daya dan kehilangan fitrahnya

ada malam-malam aku menjalani lorong panjang

tanpa tujuan kemana-mana

hawa dingin masuk kebadanku yang hampa

padahal angin tidak ada

bintang-bintang menjadi kunang-kunang

yang lebih menekankan kehadiran kegelapan

tidak ada pikiran, tidak ada perasaan, tidak ada suatu apa

Hidup memang fana, Ma

tetapi keadaan tak berdaya membuat diriku tidak ada

kadang-kadang aku merasa terbuang ke belantara

dijauhi Ayah Bunda dan ditolak para tetangga

atau aku terlantar di pasar

aku bicara tetapi orang-orang tidak mendengar

mereka merobek-robek buku dan menertawakan cita-cita

aku marah, aku takut, aku gemetar

namun gagal menyusun bahasa

Hidup memang fana,Ma

itu gampang aku terima

tetapi duduk memeluk lutut sendirian di savana

membuat  hidupku tak ada harganya

kadang-kadang aku merasa ditarik-tarik  orang kesana kemari

mulut berbusa sekadar karena tertawa

hidup cemar oleh basa basi

dan orang-orang mengisi waktu dengan pertengkaran edan

yang tanpa persoalan

atau percintaan tanpa asmara

dan sanggama yang tidak selesai

Hidup memang fana tentu saja, Ma

tetapi akrobat pemikiran dan kepalsuan yang dikelola

mengacaukan isi perutku lalu

mendorong aku menjeri-jerit

sambil tak tahu kenapa

rasanya setelah mati berulang kali

Tak ada lagi yang mengagetkan dalam hidup ini

Tetapi Ma, setiap kali menyadari adanya kamu di dalam hidupku ini

aku merasa jalannya arus darah di sekujur tubuhku

Kelenjar-kelenjarku bekerja

sukmaku bernyanyi, dunia hadir

cicak di tembok berbunyi

tukang kebun kedengaran berbicara pada putranya

hidup menjadi nyata, fitrahku kembali

Mengingat  kamu Ma, adalah mengingat kewajiban sehari-hari

kesederhanaan bahasa prosa, keindahan isi puisi

kita selalu asyik bertukar pikiran ya Ma?

masing-masing pihak punya cita-cita

masing-masing pihak punya kewajiban yang nyata

Hai Ma!

apakah kamu ingat

aku peluk kamu di atas perahu

ketika perutmu sakit dan aku tenangkan kamu

dengan ciuman-ciuman di lehermu?

Masyaallah..aku selalu kesengsem pada bau kulitmu

Ingatkah waktu itu aku berkata

kiamat boleh tiba, hidupku penuh makna

Hehehe waahh..aku  memang tidak rugi ketemu kamu di hidup ini

dan apabila aku menulis sajak

aku juga merasa bahwa kemaren dan esok

adalah hari ini

Bencana dan keberuntungan sama saja

Langit di luar,  langit di badan bersatu dalam jiwa

Sudah ya Ma

Jakarta Juli 1992

 

Wanitaku –wanitaku

 

Gerimis menampar mukaku

dan aku berseru kepadamu

dimanakah kamu wanitaku?

kamu menghilang di belakang hotel

di dalam kabut kubur kamu

kamu lari ke dalam bis kota

dan lenyaplah kamu untuk selamanya

aku bernyanyi di kamar  mandi

dan tiba-tiba tubuhmu yang telanjang terbayang lagi

apakah kamu mengerti kesepianku?

sukmaku mengembara ke dalam rumah

di antara buku-buku, gambar-gambar wanita telanjang

meja makan yang berantakan, ranjang yang berbau mimpi

aku menangis, hubungan kita sia-sia

sukmaku menjelma menjadi seekor kucing tua

yang lalu mengembara luput ke dalam perkampungan

sudah sekian lama, sudah berbulan-bulan,sudah bertahun-tahun

sudah berabad-abad melewati kepulan debu

melewati angin panas, melewati serdadu dan algojo

melewati anjing-anjing

aku memburu, memburu

berburu,  berburu

di atas Harley Davidson

mencari sukmaku dan sukmamu yang telah lenyap bersama

 

Yogyakarta Desember 1971

 

 

Doa di Jakarta

 

Tuhan Yang Maha Esa

alangkah tegangnya melihat hidup yang tergadai

pikiran yang dipabrikkan dan masyarakat yang diternakkan

malam rebah dalam udara yang kotor

dimanakah harapan  akan  dikaitkan?

bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan

dendam diasah di kolong yang basah

siap untuk terseret dalam gelombang edan

perkelahian dalam hidup sehari-hari

telah menjadi kewajaran

petatah dan petitih tak akan menyelesaikan masalah

bagi hidup yang bosan terpenjara tanpa jendela

 

Tuhan Yang Maha Faham

alangkah tak masuk akal

jarak  selangkah yang berarti 40 tahun gaji seorang guru

yang memisahkan sebuah halaman bertanam tanaman hias

dengan rumah-rumah tanpa sumur  dan wc

hati manusia telah menjadi baja

bagai dasbor yang tak acuh, panser yang angkuh, traktor yang dendam

 

Tuhan Yang Maha Rahman

ketika airmata menjadi gombal

dan kata-kata menjadi lumpur becek

aku menoleh ke utara dan ke selatan

dimanakah Kamu?

dimanakah tabungan keramik untuk uang logam?

dimanakah catatan belanja harian?

dimanakah peradaban?

 

Ya Tuhan Yang Maha Hakim

harapan kosong,  optimisme hampa

hanya akal sehat dan daya hidup

menjadi peganganku yang nyata

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: