bahagia dengan berbagi

 

 

 

 

 

“Betapa Aku sangat mencintaimu, Dunia! Tapi aku tak akan menikah denganmu!”,  teriak Rayya berdeklamasi  lantang. “Lebih keras, lebih keras lagi!”, kata Arya sembari memotret Rayya dengan kamera analognya.

Rayya, Cahaya di Atas Cahaya adalah film (pertama?) yang skenarionya ditulis oleh Emha Ainun Nadjib alias  Cak Nun. Disutradai oleh Viva Westi, dengan pemain-pemain hebat seperti  Titi Sjuman, Tio Pakusadewo dan Christine Hakim. Ada juga Alex Abbad, Ari Dagienkz, Masayu Anastasia, Fanny Fabriana dll

Menonton film Rayya mengingatkan saya pada film dengan ide sejenis seperti Into The Wild dan Eat, Pray and Love. Yakni sebuah ide tentang “perjalanan” yang dilakukan seorang manusia dalam menemukan sesuatu yang dicari dalam hidupnya.

Dalam hal ini, Rayya (Titi Sjuman) adalah seorang artis terkenal yang dianggap sebagian besar orang bergelimang cahaya gemerlap selebritas. Namun pada akhirnya Rayya malah menemukian dirinya berada dalam kegelapan.Gelap yang dipicu oleh  orang yang dicintai, mengkhianati dirinya. Untuk itulah dia melakukan perjalanan. Perjalanan mencari cahaya.Ini realistis dan logis menurut saya. Karena sebuah perjalanan akan bisa menghilangkan beban stress, kata seorang psikolog.

Kekuatan film ini menurut saya 3. Pertama dari para pemain yang sudah tidak diragukan lagi kemampuan aktingnya. Film ini betul-betul menguras kemampuan akting dua pemain utamanya, karena mayoritas gambar diambil dari dialog mereka berdua.

Kedua adalah sinematografi yang menawan. Dalam film ini kita disuguhi keindahan bukit, gunung,lembah dan lautan sepanjang perjalanan Rayya menyusuri pulau Jawa sampai ke Bali. Yang paling indah adalah siluet di Dataran Dieng dengan latar Rayya, Arya dan Range Rover nan keren abis.

Ketiga adalah dialog. Dan ini yang paling kuat menurut saya. Bagi pembaca buku-buku Emha Ainun Nadjib pasti hapal sekali dengan gaya bahasa Cak Nun yang masuk ke dalam dialog film ini. Contohnya ketika Arya (Tio Pakusadewo) bertanya kepada Rayya, “Kamu tahu gak orang paling alim itu siapa? “Tidak.”  Orang paling alim itu adalah orang yang paling pintar menyembunyikan kealimannya. Maksudnya?, tanya Rayya.  “Kealiman itu seperti kita memasak nasi di dapur, yang disuguhkan nasinya saja toh? Bukan dengan kompornya?  Banyak dialog lain di film ini  yang dalam maknanya. Seperti nasihat pernikahan oleh seorang ayah kepada anaknya yang diperankan Arie Dagienkz. Grande!

Menurut saya ketika kita sudah menikmati dialog dalam sebuah film, kadang-kadang alur cerita sudah tidak penting lagi. Karena dialog atau quotes itu yang kita bawa pulang seusai menonton. Bukan jalan cerita yang terkadang klise

Jadi menonton Rayya kita seolah  diajak ikut dalam perjalanannya. Menikmati fragmen-fragmen kehidupan serta membuat kita berkaca, kita kah cahaya itu? Atau ternyata selama ini  kita hanya berlelah-lelah tanpa sadar bahwa kita berada dalam gelap!

Film Rayya mungkin tak termasuk kategori film religi  dalam artian sempit. Namun secara makna sebetulnya mengajarkan kita tentang Makrifat. Terakhir, Film Rayya ditutup dengan manis oleh lagu Padang Bulan, sebuah lagu yang dulunya dinyanyikan Franky Sahilatua dalam album Perahu Retak.

Cahaya kasih sayang menaburi malam l hidayah dan rembulan menghadirkan Tuhan l Alam raya cakrawala pasrah dan sembahyang

Yang palsu ditanggalkan yang sejati datang l Yang dusta dikuatkan topeng-topeng hilang l Jiwa sujud hati tunduk padamu Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: