bahagia dengan berbagi

Doa

 

 

 

 

 

 

Oleh : KH A. Mustofa Bisri

Sebagai hamba, apakah sebaiknya kita memanjatkan doa memohon kepada Tuhan atau tidak? Ulama dari dulu berbeda pendapat. Sebagian mereka berpendapat memanjatkan doa itu tidak perlu. Untuk apa kita memohon kepada Tuhan yang Maha Mengetahui segala sesuatu?. Apalagi, lucu sekali kalau ada yang memanjatkan doa (model upacara resmi kita) dengan menyebutkan keadaannya secara rinci segala. Misalnya, “Ya Allah ya Tuhan kami, hari ini kami kumpul di majlis yang mulia ini memanjatkan doa kepadaMu dalam rangka meresmikan proyek Anu..”

Sebagian ulama yang lain justru mengatakan kita harus memanjatkan doa, sebab Tuhan sendiri memerintahkannya. (Q. 7: 55 dan 190; 40: 60). Nabi-nabi utusan Allah pun memanjatkan doa. Seperti Nabi Adam a.s yang berdoa, “Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa fain lam taghfir lanaa watarhamnaa lanakuunannaa minal khaasiriin.” (Q. 7: 23) “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang malang.”

Nabi Nuh a.s diperintah Tuhannya untuk memanjatkan doa,  a.l : “Rabbi anzilnii munzalan mubaarakan waAnta Khairul munziliin”(Q.23: 29). “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang terberkati. Dan Engkaulah se-baik-baik  yang menempatkan.”

Nabi Ibrahim a.s juga banyak melangitkan doa, antara lain: “Rabbi hab lii hukman wa alhiqnii bish-shaalihiin.” (Q. 26: 83)“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”

Nabi Musa a.s pun banyak memanjatkan doa, antara lain: “Rabbisyrah lii shadarii wayassirlii amrii wahlul ‘uqdatan min lisaanii yafqahuu qaulii” (Q. 20: 24-28). “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku; mudahkanlah untukku urusanku; dan lepaskanlah kekeluan dari lisanku.” Ini juga doa Nabi Musa a.s: “Rabbi najjinii minal qaumizh-zhaalimiin” (Q. 28: 21) “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku  dari orang-orang  yang zhalim itu.” Para penyihir yang diancam oleh Firaun akan disiksa, memanjatkan doa : “Rabbanaa afrigh ‘alainaa shabran watawaffanaa muslimiin” (Q. 7:126) “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri.”

Nabi Sulaiman a.s yang mendapat anugerah luar biasa dari Tuhannya, juga memanjatkan doa : “Rabbi auzi’nii an asykura ni’mataKa allatii an’amta ‘alaiya wa ‘alaa waalidaiya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa adkhilnii birahmatiKa fii ‘ibaadiKash shaalihiin.”(Q.27:19)  “Ya Tuhanku, ilhamilah aku untuk mensyukuri nikmatMu yang Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan untuk melakukan amal saleh yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba2Mu yang saleh.”

Nabi Ayyub a.s yang ditimpa penyakit memanjatkan  kepada Tuhannya: “Annii massaniadh-dhurru waAnta Khairur-raahimiin.” (Q.21: 83) “Ya Tuhan, sungguh aku telah ditimpa penyakit dan Engkau Paling penyangnya para penyayang.”

Ketika dirundung kesulitan besar di perut ikan di dalam laut, Nabi Yunus a.s memanjatkan doa  : “Laa ilaaha illa Anta subhaanaKa inni kuntu minazh-zhaalimiin.” (Q. 21: 87). “Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku telah termasuk orang-orang  yang zhalim.”

Nabi Zakariya a.s telah lama ingin mempunya keturunan, maka dilangitkanlah : “Rabbi hab lii min ladunKa dzurriyyatan thayyibatan innaKa Samii’ud du’aa’” (Q. 3: 38) “Tuhanku, anugerahilah aku dari sisiMu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar .” Bahkan Nabi Zakariya a.s juga memanjatkan doa : “Rabbi laa tadzarnii fardan waAnta Khairul-waaritsiin.” (Q. 21: 89) “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup sendirian, sedangkan Engkaulah Sebaik-baik Waris.”

Nabi Isa a.s memohon hidangan dari langit dan memanjatkan doa : “Allahumma Rabbanaa anzil ‘alainaa maaidatan minassamaa-I takuunu lanaa ‘iidan liawwalinaa wa aakhirinaa wa aayatan minKa warzuqnaa waAnta Khairurraaziqiin.” (Q. 5: 114). “Ya Allah ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami suatu hidangan dari langit yang akan dapat menjadi peringatan bahagia bagi orang-orang yang bersama kami dan orang-orang  yang sesudah kami serta menjadi tanda kekuasan dariMu; berilah kami rezki Engkaulah se-baik2 Pemberi rezki.”

Pemuda- pemuda yang tertidur dalam goa dan dikenal sebagai Ashabul Kahfi memanjatkan doa : “Rabbanaa aatinaa min ladunKa rahmatan wahayyi’ lanaa min amrinaa rasyadaa (Q.18: 10). “Ya Tuhan kami, berilah kami rahmat dari sisiMu dan sediakanlah bagi kami petunjuk untuk urusan kami.”

Di dalam Quran, Tuhan juga mengajarkan banyak doa kepada Nabi Muhammad saw sendiri; seperti : “Rabbi zidnii ‘ilmaa.” (Q. 20: 114). “Ya Tuhanku, berilah aku tambahan ilmu.”  Juga doa ini ”Rabbighfir warham waAnta Khairur-raahimiin” (Q. 23: 118). “Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat; Engkaulah Paling penyangnya para penyayang”; dan lain sebagainya.  Dan nabi Muhammad saw mengajarkan pula banyak doa untuk berbagai keperluan. Seperti doa untuk orang yang dililit utang: “Allahumma innii a’uudzu biKa minalhammi walhazani wa-a’uudzu biKa minal ‘ajzi walkasali wa-a’uudzu biKa minaljubni walbukhli waa’udzuu biKa min glalabatiddaini waqahrir rijaal.” “Ya Allah ya Tuhanku, aku memohon perlindungan padaMu dari kesusahan dan kesedihan; aku memohon perlindungan padaMu dari ketidakberdayaan dan kemalasan; mohon perlindungan padaMu dari kepengecutan dan kekikiran; dan mohon perlindungan padaMu dari lilitan utang dan dominasi orang-orang.”  Ada doa yang mencakup segala urusan baik dunia maupun akhirat dan termasuk  paling sering dipanjatkan oleh nabi Muhammad, yaitu: “Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanatan wafil aakhirati hasanatan waqinaa ‘adzaaban naar.” (Q. 2: 201) “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka.” Mengingat luasnya cakupan permohonan doa  ini, perlu kiranya selalu kita membacanya.

Shahabat Abu Bakar r.a minta doa dari Rasulullah saw untuk dibaca dalam salat dan diberi ini: “Allahumma innii zhalamtu nafsi zhulman katsiiran/kabiiran walaa yaghfiruzh-zhunuuba illa Anta faghfir lii maghfiratan min‘indiKa warhamnii innaKa Antal-Ghafuur ar-Rahiim”

Sayyidatina ‘Aisyah r.a bertanya kepada Rasulullah saw, “Kalau aku mengetahui Lailatul Qadar, apakah yang aku baca?” Rasulullah saw menjawab: “Bacalah: Allahumma innaKa ‘afuwwun kariim, tuhibbul ‘afwa, fa’fu ‘annii.”  “Ya Allah ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, suka mengampuni,maka ampunilah aku.”

Shahabat Abdullah Ibn Mas’ud mendapat ijazah doa dari Rasulullah saw untuk dibaca sehabis salat: “Allahumma a’innii ‘alaa dzikriKa wa syukriKa wahusni ‘ibaadatiKa” . “Ya Allah Tuhanku, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta memperbiki ibadahku.”

Doa2 yang datang kepada kita dari Nabi-nabi dan tokoh-tokoh  salaf lain seperti antaranya sudah aku twitkan itu, disebut : doa MA’TSUUR. Ulama-ulama  menganjurkan sebaiknya kita berdoa dengan  doa ma’tsuur. Misalnya mohon ampunanNya dengan  baca doa nabi Adam a.s. “Rabbanaa zhalamna..” Atau bisa memohon diberi keturunan dengan membaca doa nabi Zakariya a.s “Rabbi hab lii min ladunKa dzurriyyatan…” Atau menghadapi cobaan berat, dunia terasa gelap, bisa memanjatkan doa nabi Yunus “Laa ilaaha illa Anta..” Demikian seterusnya…

Beberapa ulama mengumpulkan doa2 ma’tsuur tsb dalam kitab-kitab  kumpulan  doa seperti AL-ADZKAARnya Imam Nawawi (631-676 H) yang terkenal itu. Tapi bukan berarti kita tidak boleh menggunakan doa  sendiri dengan bahasa ibu kita. Tuhan menguasai segala bahasa kok.   Memang penting kita mengerti doa yang kita panjatkan. Sering kali kita merasa lebih khusyuk bila berdoa dalam bahasa yang kita mengerti. Namun mengerti atau tidak doa yang kita panjatkan , berdoa tetap mendapat pahala. Karena kita berdoa melaksanakan perintahNya.

 

Etika Berdoa dan Bagaimana Doa Dikabulkan

 

SeBAIKnya, doa dilakukan dalam kondisi suci badan, suci pakaian, suci tempat, dan menghadap kiblat. Didahului dengan  Hamdalah dan shalawat. Ketika memanjatkan doa, seBAIKnya sambil mengangkat kedua tangan; kemudian setelah selesai, mengusapkan keduanya ke wajah.

Doa yang mustajab itu bisa karena:

  1. Si pendoanya sendiri
  2. Caranya berdoa
  3. Saatnya berdoa
  4. Tempatnya berdoa

Yang pertama, doa itu dipanjatkan oleh orang yang bersih badan dan hatinya; suci dari noda-noda  ujub, kebencian, dendam, dengki, angkuh, dlsb.

Yang kedua doa mustajab sebab dipanjatkan dengan cara yang khusyuk penuh keyakinan dan iman, di samping dilakukan seperti dlm no 67-68 di atas.

Yang ketiga doa dipanjatkan di saat-saat  mustajab, seperti pada hari Arafah, hari Jum’at, saat berpuasa, saat sujud, saat iqamat, dlsb.

Yang keempat doa dipanjatkan di tempat-tempat  mustajab seperti di Masjidil Haram, di Multazam, di Maqam Ibrahim, di Arafah, dlsb. Ada doa yang sangat mustajab oleh orang dan kondisi tertentu. Yaitu doanya orang yang teraniaya, mendoakan pihak yang menganiayanya. Hati-hati!

Waba’du; imam Ghazali (w. th 1111M) berkata: “Bila ada yang mengatakan apa gunanyadoa, bukankah qadha, ketentuan Allah tak terelakkan, maka ketahuilah bahwa menolak bala dengan doa itu termasuk juga dalam qadha. Doa adalah sebab tertolaknya bala dan adanya rahmat… “ Imam Ghazali, menganalogkan doa dengan perisai penolak senjata. Meyakini qadha tidak harus tidak menggunakan perisai.

Masih ada lagi pertanyaan penting yang sering mengusik kita, yaitu: kita ini sudah sekian lama memanjatkandoa  –minta ini, minta itu, untuk kepentingan sendiri maupun umum—namun kok sepertinya tak ada tanda-tanda doa kita dikabulkan; kenapa?

Dulu pertanyaan tentang  doa seperti itu pernah diajukan orang-orang  Bashrah kpd sufi terkenal mereka: Ibrahim bin Adham (hidup sekitar abad VIII M). Tokoh sufi itu menjawab: “Itu disebabkan karena hati kalian telah mati dlm 10 hal:

1. Kalian mengenal Allah tapi tidak menunaikan hak2Nya.

2. Kalian membaca Kitab Allah, tapi tidak mngamalkannya.

3. Kalian mengaku mncintai Rasulullah, tapi tidak mengikuti jejaknnya.

4. Kalian mengaku benci setan, tapi selalu menyetujuinya.

5. Kalian yakin mati itu pasti, tapi tak pernah mempersiapkannya.

6. Kalian bilang takut neraka, tapi terus membiarkan diri kalian menuju kesana.

7. Kalian bilang ingin sorga, tapi tak pernah beramal untuk itu.

8. Kalian sibuk dengan aib-aib orang lain dan mengabaikan aib-aib kalian sendiri.

9. Kalian menikmati anugerah Tuhan tapi tidak pernah mensyukurinya.

10. Kalian setiap kali mengubur  jenazah, tapi tak pernah mengambil pelajaran darinya.

Untuk menghadapi tahun 1314H, marilah terus kita langitkan dengan  khusyuk penuh harap doa  ini: Allahumma laa tusallith ‘alainaa bizhunuubinaa man laa yakhaafuKa walaa yarhamunaa. Ya Allah ya Tuhan, janganlah Engkau kuasakan atas kami, karena dosa2 kami, penguasa yang tidak takut kepadaMu dan tidak mempunyai belas kasian kepada kami.

Demikianlah ocehanku tentang doa. Semoga ada manfaatnya. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: