bahagia dengan berbagi

Johan

johan

 

 

 

 

 

 

 

 

“Maaf Pak,karena bapak belum melunasi biaya administrasi,bayi bapak tidak bisa dibawa pulang”.

Kata-kata seorang bidan di RS Bersalin ini selalu terngiang-ngiang di telingan Johan. Seharusnya pagi ini adalah pagi terindah dalam kehidupannya. Bagaimana tidak,seorang anak laki-laki akan hadir di rumahnya. Anak yang sudah bertahun-tahun dinantinya bersama Surti. Selama 5 tahun dia mendekam di penjara,kehadiran seorang buah hati adalah mimpinya sehari-hari. Barulah 2 tahun setelah bebas,Tuhan memberikan tanda-tanda itu ; Surti hamil.

Johan,lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai kuli pikul di Pasar Induk Kramat Jati,berusaha menahan air mata ketika masuk ke kamar rawat kelas 3. “Anak kita belum bisa pulang Dek”,ucapnya lirih. Surti yang sedang beres-beres tas untuk pulang terkejut,”Kenapa Bang?”tanyanya. “Abang belum bisa melunasi administrasi,”jawabnya pendek.Mendengar hal tersebut Surti tak kuasa membendung airmatanya.Ia menangis.

“Tenang Bu,Abang berusaha carikan uang. Ibu tunggu dulu disini. Insyaallah abang kembali secepatnya”,kata Johan meyakinkan istrinya. Mendengar itu Surti tersenyum,kemudian mencium tangan suaminya dan berkata,”Pergilah Bang,Surti doakan”. Dengan langkah tegap perlahan Johan meninggalkan istrinya.

Sungguh dia merasa beruntung memilki Surti. Perempuan yang dikenalnya di persimpangan. Perempuan yang merawat lukanya ketika terjadi keributan antar preman pasar Senen. Perempuan yang menyembunyikannya ketika dikejar-kejar Satpol PP dan Polisi. Perempuan yang sama sepertnya,bertahan hidup dengan melawan kerasnya ibukota.Bedanya, Surti menempuh jalan yang halal sebagai pedagang asongan,sedangkan ia menjadi Gali,berkeliaran di seputar stasiun Senen.

“Eleuh..eleuh…kunaon Johan? Naha pagi-pagi begini murung? Bagaimana kabar Si Bayi?”,tanya Dadang,teman seprofesinya.”Alhamdullillah sehat Dang,tapi masih di RS”,jawabnya.”Kenapa belum dibawa pulang?Tanya Dadang lagi.”Itulah masalahnya,saya belum bisa melunasi biaya administrrasi,si Surti terpaksa di operasi karena kata dokter panggulnya sempit”. “Berapa kekurangannya?”Tigor yang sedari tadi diam ikut bertanya. “Kurang lebih 7,5 juta lagi Gor”jawab Johan lemah. “Bah!! kalo saja tembus togelku semalam,kubayarkan kau Johan,”kata Tigor. Johan hanya tersenyum kecut mendengar pernyataan Tigor. Orang-orang kecil seperti mereka,darimana mendapat uang sebesar itu?

Dadang dan Tigor,adalah dua orang sahabat yang dikenal Johan di penjara. Mereka bertekad akan mencari rezeki yang halal ketika keluar nanti. Tekad ini mereka sampaikan di depan Ustad Fauzi,seorang narapidana yang dihukum karena diduga terlibat terorisme. Di penjaralah mereka mulai mengenal Islam. Mereka belajar sholat dan mengaji. Hanya ketika keluar,Tigor sekali-kali masih mencobar peruntunganya dengan memasang togel.Alasannya ketika ditanya”Kalau aku tak pasang Togel,aku bisa hidup tapi tidak punya harapan jadi orang kaya.Tapi kalau aku pasang,minimal aku masih bisa berharap jadi orang kaya”.

“Ini mas uangnya,”kata seorang ibu yang sudah dibawakan oleh Johan belanjaannya.”Terima kasih Bu”,ucap Johan senang. Ditatapnya uang tersebut. Selembaran coklat yang tertulis di ujungnya ; 5000. Johan menarik napas dalam. Seberapa harikah dia bisa mengumpuilkan recehan sebesar ini hingga mencapai 7,5 juta? Bahkan mungkin setahun ia menjadi kuli dengan kerja terus menerus belum tentu terkumpul uang sebanyak itu. Kepada siapa dia akan mengadu?

Dia adalah seorang lelaki perantauan dari Sumatera yang tidak punya sanak saudara di ibukota ini. Sedangkan meminjam ke orang lain dia sudah tebal muka.Karena uang 2,5 juta yang dibayarkannya ke RS sebagiab besarnya hasil pinjaman sana sini pada teman dan tetangganya yang notabene hidup mereka juga susah.

Johan menatap langit,dihirupnya rokok kretek murahan itu dalam-dalam dan dihembuskannya ke udara,seolah-olah berharap semua permasalahannya menguap seperti asap rokok tersebut.

“Maaf Pak,di RS ini tidak bisa berhutang.Semua harus dibayar tunai!”ucap petugas ketika ia mencoba kembali kesana.Berharap ia bisa mendapatkan keringanan.”Bapak coba urus kartu sehat,mungkin bisa mendapatkan keringanan!”kata petugas lagi.Mendengar hal tersebut wajah Johan sedikit cerah,seolah ia melihat secercah cahaya dari lorong gelap.”Maaf,bagaimana dan dimana caranya Bu?tanyanya.”Mudah kok Pak,cukup menyiapkan fotokopi KTP,Kartu Keluarga kemudian bapak ke kelurahan meminta surat tanda tidak mampu. Kemudian bapak ke Puskesmas minta rujukan ke RS ini”terang petugas itu.

Mendenagar penjelasan itu wajah Johan kembali buram. Bagaimana mungkin ia bisa mengurusnya? Sebagai warga penghuni bantaran Ciliwung,ia tidak punya KTP sama sekali.Apalagi yang namanya Kartu Keluarga.Pernikanhannya dengan Surti 7 tahun lalu hanya disaksikan oleh Mbah Suro,sesepuh warga kampung kumuh itu.”Terima kasih atas penjelasannya Bu,”kata Johan lemah. Dengan langkah gontai ia berjalan keluar RS.

5 hari kemudian…

Pagi yang cerah. Suasana rumah sakit sudah diramaikan dengan pasien dan para petugas medis yang hilir mudik. Di ruang administrasi Johan dengan senangnya membayar sisa tagihan.Semua dilunasinya sebesar 8 juta karena tambahan rawat selama 7 hari.Dengan wajah gembira Surti menyambut kedatangan Johan yang membawa surat ijin keluar RS. “Alhamdulillah..terima kasih ya Allah..Engkau memberi rezki hingga kami bisa pulang”,katanya sambil memeluk Johan. Mendengar itu Johan tersenyum kecut,dalam hatinya menyimpan rasa bersalah.Sepanjang perjalan pulang mengendarai angkot,tak henti-hentinya Surti mengucap syukur,beda dengan Johan yang sepanjang pulang tak henti-hentinya beristighfar.

Di ruang direktur RS Bersalin

“Halo? Pak Toni…fee yang Anda berikan kemarin kelihatannya kurang 8 juta.Saya hanya menerima 12 juta.Apa Anda tak salah hitung?”

“Eh,maaf Pak Dokter,rasanya saya sudah hitung,mohon dihitung lagi Pak”

“Apa? kamu tidak percaya saya? Toni kamu jangan main-main,bisa saja saya sabotase semua produk obat dari perusahaanmu di RS ini”

“Ma…ma…af Pak,mungkin anak buah saya yang salah. Nanti akan saya kirim sendiri sisanya”.

“Bagus kalau begitu,jangan lama ya! Siang ini saya sudah janji akan belikan anak-anak BlackBerry”

“Siap Pak Dokter,saya segera meluncur kesana”.

***

Terinspirasi lagu Ambulance Zig Zag-nya Iwan Fals

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: