bahagia dengan berbagi

Si Roy

BSR

 

 

 

 

 

 

 

 

 

( dari pertemuan sekitar 4 tahun lalu )

“Dok,ada pasien baru di kamar 134”, kata perawat di suatu pagi. “OK, jam berapa datangnya?”,tanyaku. “Tadi sekitar jam 7an”,jawab perawat. “Baik, mana statusnya?”. Kemudian aku, dengan ditemani seorang perawat pergi ke kamar tersebut. Di statusnya tertulis nama Tn. Heri H. Harris, alamat Serang, Banten. Tidak ada perasaan apa-apa ketika aku melihat status tersebut. Biasa saja, sama seperti pasien-pasien baru lainnya.

Namun jantungku mulai berdegup kencang ketika masuk ke kamar 134. “Assalamualaikum…” “Waalaikumsalam..”jawab sang pasien dengan ramah. “Perkenalkan saya dr fanni”,kataku. “Heri”,katanya singkat. Sambil mengananmnesa pasien ini tak henti-henti aku mengamatinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah yakin, aku berkata,”Rasanya saya kenal deh,sama bapak”,kataku. Sang pasien cengengesan sambi berkata,”hayo tebak saya siapa?”. “Bapak Gola Gong kan?”tanyaku yakin. Sekali lagi dia cengengesan sambil berucap,”Kok tahu?”
Jujur saja saat itu aku sangat excited! Aku kembali menyalaminya, agak lama..Kalau tidak menjaga imej sebagai dokter (cieee) tentu tingkahku bakalan norak seperti ABG ketemu artis,hehehe.

Gola Gong dengan Balada Si Roy-nya adalah impianku semasa ABG. Sekarang tak disangka aku merawat salah seorang penulis favoritku itu. Pertanyaanku padanya waktu itu (mungkin sama seperti pertanyaan ribuan pembacanya) ialah ;”Kenapa Balada Si Roy tidak dilanjutkan?” Dan Mas Gong (seperti apa ia ingin dipanggil) bercerita bahwa ia banyak mendapat masukan dari para ibu-ibu betapa banyak kehilangan anak mereka, keluar seokolah karena ingin berpetualang seperti Si Roy. Dan hal ini sempat mengganggunya, membuat ia merasa bersalah. Saat itu aku tak menanggapi, tapi dalam hati aku berkata betapa banyak pula anak-anak di Indonesia yang terinspirasi dari petualangan Si Roy yang penuh semangat,romantisme,idealisme,keberanian, sportivitas dan sangat humanis. Hmmmm…

Selama di rawat kumanfaatkan untuk berdikusi dengannya, terutama ketika visit. Satu hal yang kuingat sampai sekarang adalah bahwa ia sangat menyemangatiku untuk menulis. Ya, menulis apa saja.” Asal benar-benar keluar dari dalam hati”,katanya. “Menulis dengan hati”, kata yang masih terngiang-ngiang sampai sekarang. Kemudian ia memberiku cara-cara praktis dalam menulis. Saat itu kusampaikan padanya bahwa saya lagi malas menulis dan membaca buku. “Sekarang lebih banyak baca koran nonton film Mas”,kataku. Mas Gong mengatakan bahwa silakan saja aku untuk terus menonton film.” Nanti akan banyak ditemukan sesuatu yang menginspirasi untuk ditulis”,katanya.

Yang membuat ku salut padanya adalah semangat. Ya, semangat yang juga aku tangkap dari Balada si Roy ternyata benar-benar nyata! Mas Gong tidak segan-segan membagi pengalaman hidupnya dengan sesama pasien lain pada saat pengajian pasien. Oh ya, di RS kami setiap Jumat pagi seluruh pasien yang bergama Islam dilaksanakan pengajian.

Satu hal lagi yang membuat ku salut adalah betapa banyak saudara, teman dan sahabat yang mengunjunginya atau bersimpati selama ia dirawat. Mulai dari kalangan biasa, dari rekan sesama penulis,anggota DPR bahkan menteri! Subhanallah, suatu hal luar biasa dari seorang Gola Gong.

Akhirnya setelah berapa lama, Si Roy meninggalkan RS kami. Banyak yang kudapat darinya. Selain buku dan tanda tangannya di Buku Balada si Roy, Perjalanan Asia dan beberpa karangan lainya yang kukoleksi, aku juga mendapat pelajaran hidup secara langsung dari Si Roy! Trims Mas Gong! Semoga sehat selalu. Agar anak bangsa ini tetap menerima kebaikan dari karyamu

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: