bahagia dengan berbagi

Tamasya Ruhani di Rabia

picmix-2272013-72710

“Apa yang membuatmu berpikir bahwa rakyat Bolivia menerima idemu?”

“Karena sekarang kau memiliki kediktatoran militer. Pernahkah kau melihat cara hidup petanimu?”

“Lalu kenapa para petani itu tidak bergabung denganmu?”

“Mungkin mereka percaya kebohongan kalian”

“Atau memang mereka tak ingin kau di sini?”

“Ya, mungkin karena kegagalan kami meyakinkan mereka..”

Demikian percakapan Ernesto “Che” Guevara dengan komandan yg berhasil menangkapnya, sesaat sebelum dia dieksekusi. “Tembak! Lakukanlah!”, kata Che pada eksekutornya.

Che, dokter Argentina yang membantu revolusi Kuba, memutuskan melepas semua jabatan yg diberikan Fidel Castro kepadanya. Dia lebih memilih jalan gerilya untuk sebuah revolusi. Jalan yang ia cita-citakan sejak memutuskan bergabung dengan Fidel. Di atas kapal, perjalanan ke Kuba, pernah Che ditanya, jika revolusi Kuba berhasil, apa yang ia lakukan? Che menjawab, “Aku akan berkeliling ke seluruh negara di Amerika Latin untuk mengobarkan revolusi”.

Dan Che menepati janjinya. Meninggalkan segala kemewahannya di Kuba. Meninggalkan istri dan 4 anaknya tercinta, dan menyamar untuk masuk ke Bolivia. Di sini dia kembali menjalankan cita-cita revolusionernya, dan bergabung dgn pasukan perlawanan terhadap Presiden Barientes.

Kalau kita perhatikan, jalan yang ditempuh Che sungguh tak rasional. Barangkali terlalu ideal. Bahkan mungkin agak “gila”. Itu kata kita. Lain kata orang yang menjalaninya. Ini terlihat dari dialog Che, jelang kematiannya. Tak ada penyesalan. Tak muncul rasa takut. Bahkan maut sekalipun.

Di Mesir, kita melihat hal yang sama. Para demonstran yang memenuhi Rabia, bahkan sejak bulan puasa, sampai detik ini masih bertahan. Meski sudah ribuan nyawa melayang namun tak menyurutkan langkah mereka kembali ke rumah. Tanpa senjata, mereka menantang tank-tank militer. Tanpa perlawanan, mereka dibubarkan paksa dengan peluru tajam para sniper.

Sekali lagi, orang “normal” tentu melihat ini sebagai sesuatu yang aneh. Sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan manusiawi ; kenapa sampai seperti itu? Untuk kekuasaan? Bukankah itu mati konyol? Kok bisa? Kenapa mau? Dst..

Menurut saya, apa yg mereka lakukan itu seperti sebuah “tamasya ruhani”. Mereka, para demonstran itu pada hakikatnya berada dalam kondisi psikologis yang penuh euforia. Ruh mereka telah “sakau” oleh nilai-nilai yang mereka yakini. Idealisme mereka menstimulasi  kelenjar hipofisis sehingga mengeluarkan hormon endorfin yang sangat banyak ( cat : Endorfin adalah hormon yang diduga kekuatannya  300x Morfin sintesis ). Tak ada rasa sakit, hanya kebahagian dan kesenangan yang teramat sangat. Jarak hidup dan mati pun menjadi tipis sehingga tak peduli lagi dengan pembatasnya.

Dan akhirnya mereka abadi. Barangkali ke depan anak cucu kita hanya bisa mengeja tinta emas yang mereka torehkan pada sejarah. Mati, untuk sesuatu yang lebih besar, bahkan daripada kehidupan mereka sendiri. Mati, yang membuat mereka hidup selamanya.

Comments on: "Tamasya Ruhani di Rabia" (2)

  1. purwatiwidiastuti said:

    Rabia…koq ga pernah dengar yaaa

    • Iya. Memang kurang populer karena tdk diblow up media mainstream. Itu lokasi demo pro demokrasi yg menentang kudeta militer di Mesir. Kemudian terjadi pembantaian. Kabarnya ribuan orang terbunuh disitu. Lebih sadis daripada pembantaian di lapangan Tian an men.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: