bahagia dengan berbagi

Perempuan dalam Lamunan

perempuan siluet

Debur ombak sore ini sedikit menentramkan hati Fahri. Baru saja dia mendapat telepon dari pengacaranya bahwa kesepakatan tentang harta gono gini telah tercapai. Ya, bahtera pernikahan yang sudah berlayar hampir 5 tahun dengan Ratna, kandas.

Fahri terus berjalan menyusuri bibir pantai sampai ke batas perkampungan. Hari sudah menjelang magrib. Tiba-tiba matanya terpaku pada sesosok perempuan muda berkerudung yang duduk di atas sebuah kapal nelayan yang tertambat. Pendar keemasan dari sinar matahari seperti membentuk siluet antara perempuan itu, perahu dan laut. “Ah, seandainya kubawa kamera,” batin Fahri.

“Oi Tena, pulang lah Nak. Hari sudah senja!” Seorang wanita paruh baya berteriak kepada perempuan itu. Membuyarkan lamunannya sekaligus mengakhiri tatapan Fahri. Sambil menarik napas panjang diperhatikannya perempuan itu turun dari perahu dan berjalan ke arah sumber suara. Perlahan sosoknya menghilang di telan kegelapan kampung nelayan yang sederhana ini.

Sudah 1 tahun Fahri berada di kota ini. Kota yang sempat luluh lantak akibat gempa beberapa tahun lalu. Setelah menyelesaikan pendidikan spesialis, dia ditugaskan di Rumah Sakit Umum Daerah sebagai dokter anestesi. Praktis setahun ini dia meninggalkan keluarganya di Bandung. Ratna, istrinya yang sedang menjalani pendidikan spesiais dan Tasya, putri tunggalnya yang berusia 2 tahun. Saat ini tinggal dengan mertuanya.

“Dok, pasien sudah siap,” kata seorang perawat. “OK” Fahri bergegas menuju ruang ganti. Selama operasi, pikirannya menerawang ke masa silam. Dia tidak habis pikir mengapa rumah tangganya berakhir seperti ini. Awalnya mereka bahagia, apalagi setelah dikaruniai seorang putri yang lucu. Namun semua berubah ketika Ratna bersikeras melanjutkan pendidikannya. Fahri mengalah, putrinya yang waktu itu berumur 1 tahun dititipkan ke mertua.

Pada awalnya dia tak percaya. Namun semakin lama aroma pengkhiatan itu semakin kuat. Entah kebetulan atau tidak, Ratna satu kelompok dengan mantan pacarnya di SMA dulu. Tomy namanya. Inilah yang selalu dikhawatirkan Fahri. Sejak mereka pacaran sampai menikah, Fahri sering menelan ludah, ketika Ratna membandingkan dirinya dengan Tomy. Hanya karena cintanya terlalu besar kepada Ratna yang membuat dia berlapang dada.

“OK, done!”kata dokter bedah. Fahri seolah tersentak, kemudian bangun dari duduknya dan mempersiapkan pasien pasca operasi.

“Kenapa kamu Ri? Aku lihat akhir-akhir ini sering melamun?” tanya Ismail, sejawatnya dokter bedah di kantin RS.

“Hhhh…Iya Is, kamu tahu kan? Minggu depan aku harus ke Bandung untuk sidang terakhir. Kemarin pengacaraku telpon, sudah sepakat tentang harta gono gini. Hak asuh anak kepada ibunya,” jawab Fahri.

“Hah? Jadi kalian pisah?”

“Begitulah.”

“Hmm..Sabar ya Ri. Takdirnya sudah begini. Mungkin ini yang terbaik untuk kalian berdua, daripada tetap bersama tapi berasa seperti di neraka. Yang pasti Allah Maha Adil kepada hamba-hambanya.”

Ismail adalah sahabat tempat Fahri sering curhat. Teman satu kos ketika mahasiswa dan terkenal alim. Tak bosan dia mengajak Fahri ikut pengajian di kampus. Sesekali Fahri ikut, meski sekadar solidaritas.

“Trims Is,” Fahri meringis. Pasrah

Neraka, seperti yang diucapkan Ismail benar adanya. Semenjak Ratna sekolah lagi, mereka sering cek cok. Masalah sepele menjadi besar. Ratna pun semakin sering memandingkannya dengan Tomy. Fahri menjadi tidak betah di rumah. Puncaknya ketika tiba-tiba Ratna minta cerai. Padahal 1 bulan lagi Fahri ujian akhir spesialis. Dirinya bertambah gundah, meski akhirnya dia bisa lulus menjadi seorang anestesiolog.

“Oh itu si Tena. Kasihan dia, semenjak ditinggal suami dia menjadi aneh,”kata Mak Malin, pemilik lapau.

“Apa yang terjadi Mak?,” tanya Fahri.

“Suaminya, Saiful, sampai saat ini jenazahya belum ditemukan sejak gempa besar 2 tahun lalu. Waktu itu mereka baru 3 minggu menikah. Sejak itu sampai sekarang, sesudah ashar sampai magrib dia selalu termenung di tepi pantai. Seolah menunggu suaminya pulang dari laut” cerita Mak Malin.

Fahri mulai tertarik dengan sosok perempuan ini. Setiap sore, jika sedang kosong atau tidak ada operasi, dia datang ke kampung itu. Diam- diam Tena menjadi makanan kameranya. Fahri memang hobi fotografi, dan siluet adalah objek favoritnya.

2 minggu kemudian…

“Dok ada pasien baru di ICU,’’kata seorang perawat.

 “Baik, saya kesana,”ujar Fahri. Sesampainya di ruang ICU dia sedikit ada Mak Malin dan beberapa orang dari kampong nelayan menunggu di luar ruangan.

“Hei, Mak Malin kenapa ada disini? Ada saudara yang dirawat?”

“Tidak Dok, kami baru menghantarkan si Tena. Kemarin tidak seperti biasanya magrib belum pulang. Di tempat biasa dia duduk tidak ada. Akhirnya setelah dicari warga, baru ketemu tengah malam tak sadarkan diri di pantai kampung sebelah.”

Fahri terperanjat. Langsung dia masuk ke ruang ICU. Kondisi Tena kurang baik. Kemungkinan air lalu banyak mengisi paru-parunya. Di mulutnya terpasang ventilator. Tangannya tersambung dengan cairan infus dan syringe pump. Ada layar monitor di sampingnya. Fahri langsung mengevaluasi status dan pengobatannya.

“Bagaimana keadaannya Dok?”tanya perempuan tua yang seingat Fahri selalu menjemput Tena jika magrib tiba.

“Keadaannya masih kritis Mak, kita doakan saja,” jawab Fahri.

“Apakah sebelumnya dia pernah berusaha bunuh diri?” tanya Fahri kepada perempuan tua itu.

“Belum, belum pernah Dok. Anak saya ini sangat taat. Meski terlihat aneh, tapi sehari-harinya biasa. Bahkan sejak kematian suaminya, tak pernah lepas sholat malam. Saya sering terbangun oleh isak tangis di sela-sela doanya yang masih berharap bertemu jenazah suaminya,”kata perempuan tua itu berkaca-kaca.

Fahri terharu. Sosok Tena semakin menarik hatinya. Meski hanya lewat sepotong cerita dan siluet senja. Dirinya yang terluka, dan luka itu masih menganga, seolah mendapatkan pembasuhnya. Meski mungkin baru perciknya.

Ini sungguh aneh. Bahkan ketika di hari ketiga ICU, ketika keluarga bersikeras membawa Tena pulang dengan alasan biaya, dengan spontan Fahri berkata,” Seluruh biaya saya yang tanggung!”

“Dulunya Tena kembang desa kami. Anaknya baik, ramah, pintar dan sholehah. Sehingga banyak pemuda berharap cintanya. Mulai dari nelayan, tukang ojek, guru bahkan seorang perantau sukses dari Jakarta. Semua ditolak, karena cintanya sudah tertambat pada Saiful, pemuda sederhana yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Setelah 3 minggu menikah, terjadilah gempa besar itu. Dan Saeful termasuk korbannya. Sesudah 3 bulan menjanda, Tena semakin tersohor sebagai janda kembang. Terakhir seorang anggota Dewan berusaha mendapatkan cintanya, dengan iming-iming harta supaya mau menjadi istri kedua. Itu pun ditolak” cerita Mak Malin suatu waktu.

Kesetiaan. Mungkin ini magnet penarik hati Fahri. Cerita tentang Tena bagaikan cermin rumah tangganya, namun paradoks. Bagi Fahri kesetiaan sangat mahal. Bahkan tidak  mampu ia bayar kepada Ratna. Bagi Tena, kesetiaan adalah harga mati. Dalam arti yang sebenar-benarnya.

3 hari kemudian..

“Dok pasien ICU sudah mulai sadar,”lapor perawat kepada Fahri.

“Tena?”

 “Betul Dok”

“Syukurlah..”

Fahri sumringah. Bergegas ia menuju ICU. Perempuan dalam lamunan itu akhirnya mulai membaik. Mungkin tak lama lagi Fahri berkenalan dengannya. Mungkin tak lama lagi Fahri menanyakan kabarnya. Mungkin tak lama lagi mereka berbagi cerita. Mungkin… dan beribu-ribu kemungkinan berkelebat di kepala Fahri.

Untuk pertama dalam setahun terakhir, mata Fahri berbinar. Secerah pagi itu.

Inspired by song Pearl Jam “Whislist” : I wish I was a sailor with someone who waited for me..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: