bahagia dengan berbagi

Woles in Jogja

Logo Keraton Jogja

Logo Keraton Jogja

Bus Malam. Menuju Jogja. Dari Purwakarta. Berdua. Pengen icip Sate Klatak sekaligus nganter istri pelatihan ( atau sebaliknya ) hehe

Jam 6 pagi sampai di terminal Jombor. Letaknya di ring utara Jogja, masuk kabupaten Sleman.

Niatnya menunggu Trans Jogja, tapi karena masih terlalu pagi, memutuskan naik taksi

Tawar menawar harga taksi, akhirnya bertemu di angka  50 ribu. Kami pun meluncur menuju kawasan Purawisata

Oh ya, sebelumnya sempat ditawarkan jasa ojek, 40rb

FYI : Di Jogja ( Kotamadya ) tidak ada angkot. Alat transportasi Becak, Ojek, Taksi, Transjogja. Untuk Taksi ada yang berwujud Avanza atau Xenia

Sekitar 20 menit, akhirnya sampailah di Gedung Hiperkes, Jl Ireda, kawasan Purawisata

Balai Hiperkes Jogja

Balai Hiperkes Jogja

Kami mencari penginapan di sekitar Balai Hiperkes. Akhirnya ketemu, sekitar 100m. Setelah istirah sejenak, kami pun jalan. Tujuan keraton. Pakai becak, 10ribu. Jangan kawatir untuk transportasi, karena di depan penginapan atau hotel biasanya banyak becak yang mangkal.

Selamat pagi dari Jogjaaaahhhh….

Jogja jam segini ( 8 pagi ) masih sepi ya?🙂

Jl Brigjen Katamso

Jl Brigjen Katamso

Gerbang Kraton Jogja

Gerbang Kraton Jogja

Sampailah kami di kawasan Keraton. Di depan sudah banyak becak yang menunggu. Keliling komplek kraton dengan Becak Wisata 5 rebu saja🙂 Di dalam komplek keraton ini lengkap. Tidak perlu pusing mencari oleh-oleh. Mulai dari batik, kaos, lukisan, handycraft bahkan RM Padang pun ada🙂

Becak di Jogja selain alat transportasi bisa juga menjadi guide yang baik. Dengan senang hati mereka akan membawa kita ke tempat-tempat wisata dan belanja.

Tukang Becaknya humble dan polite. Banyak cerita tentang kraton dan kesultanan. Meski ada bumbu-bumbu mistisnya sih..

Menarik Keraton ini. Tanahnya seperti pasir laut. Jangan-jangan benar yang dikatakan tukang becak tadi bahwa dulunya disini adalah laut🙂

Masuk keraton kendaraan harus dituntun. “Termasuk mobil?” tanya istri saya. “Maaf, kan mobil ndak bisa dituntun” jawab si Tukang Becak. Hahaha

Dalam kraton, motor harus dituntun.

Dalam kraton, motor harus dituntun.

Masuk museum keraton ( kalau tadi komplek keraton )  5ribu, plus seribu untuk ijin foto-foto. Dan tidak boleh pake topi. Ketika saya tanya ke Abdi Dalem kenapa tidak boleh, mereka jawab,” Ya memang udah dari sononya tidak boleh,”  :) Di dalam museum banyak peninggalan sejarah Jogja. Tapi yang paling menonjol adalah Sultan Hamengkubuwono IX.

Sultan Hamengkubuwono IX ketika Ospek di Belanda

Sultan Hamengkubuwono IX ketika Ospek di Belanda

Pulang dari Keraton, kami mencari rental motor. Lumayan, matic. 12 jam 40rb. 24 jam 60rb. Kami ambil yang 24 jam.

Kami menuju Stasiun Tugu, beli tiket kereta pulang. Tak lupa mampir ke tempat makan legendaris,  Soto Sulung Stasiun Tugu, yang konon berdiri sejak 1968

Soto Sulung Stasiun Tugu

Soto Sulung Stasiun Tugu

Ditemani gerimis dan dipayungi senja, kami berangkat menuju Malioboro.

malioboro

Sepintas, gedung tua dan suasana kaki lima Malioboro ini mirip sekali dengan Pasar Baru Bandung.

Di Malioboro banyak kaki lima yang jualan oleh2 khas Jogja. Harga miring, asal pintar tawar menawar saja. Dipilih..dipilih…dipilih…

Puas belanja mata, kami pulang. Malam masih gerimis. Kami lewati Gedung BI dan Kantor Pos. Bangunan peninggalan Belanda. Sungguh indah diterangi cahaya merkuri.

Gedung BI Jogja

Gedung BI Jogja

Esok pagi saya sendiri. Istri sudah mulai pelatihan. Tujuan 2 : Parangtritis dan Sate Klatak.

Tidak sulit ke Prangtritis. Keluar Jl Ireda kemudian belok kiri Jl Brigjen Katamso, lurusannya sudah Jl Parangtritis. Ikuti saja. Luruuuuussss terus🙂

Sepanjang jalan Parangtritis, terutama ketika melewati kawasan Bantul, kita disuguhi pemandangan menawan. Hamparan sawah luas terbentang. Dipagari Gunung dan perbukitan di kejauhan. Juga ada sungai berkelok. Subhanallah!

Bantul

Bantul

Kurang dari 1 jam saya sampai di Parangtritis. Karcis masuk 5 ribu. Di dalam sudah ada tempat penitipan motor. Hanya 3 rb. Saya perhatikan sepanjang jalan menjelang pantai, banyak penginapan kecil. Harga yang ditawarkan pun miring sepertinya.

Pantai Parangtritis

Pantai Parangtritis

Parangtritis ini magis. Ombaknya besar, pantainya lebar dan datar jadi pas untuk bermain bola, dikelilingi tebing yang terjal. Ada jasa Andong untuk berkeliling pantai. Saya pilih nyeker, sambil menelan deburan ombak dan hembusan angin laut selatan. Jadi ingat cerita Nyi Roro Kidul, jadi ingat Wiro Sableng dan Perkemahan Kaum Urakan penyair Rendra di awal tahun 70an.

Satu jam menikmati Parangtritis saya melangkah pulang. Dalam perlananan tengok kiri kanan akhirnya saya mampir di salah satu warung Sate Klatak di pinggir jalan

Sate Klatak

Sate Klatak

Sate klatak ini sate kambing dengan potongan besar. Jadi dua tusuk saja sudah kenyang ( kecuali yang gembul ). Ada kuahnya. Satenya sendiri sudah diberi bumbu. Memang benar, maknyus tenan. Rugi besar kalau ke Jogja belum icip Sate Klatak hehe

Dan akhirnya saya pulang. Sudah 3 kali ke Jogja tapi yang terakhir ini bikin jatuh cinta ( halah ). Dan menurut saya, woles yang sebenarnya itu ya di Jogja..

***

Comments on: "Woles in Jogja" (4)

  1. klo boleh tau kmrn nginep di ireda dimana mas? terimakasih

  2. Kalau boleh tahu penginapannya sehari berapa dan fasilitasnya apa saja yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: