bahagia dengan berbagi

wanita hamil

Perempuan dengan badai di perut, begitulah Rendra menggambarkan seorang perempuan yang sedang hamil dalam puisi “Perjalanan Bu Aminah”. Tapi tulisan ini tidak hendak membahas puisi itu. Karena saya bukan pengamat ( ini profesi lagi laku-lakunya loh!) sastra, juga bukan sastrawan. Hehe

Saat ini istri saya memang membawa-bawa badai di perutnya, alias hamil. Ini merupakan kehamilan ketiga baginya. Alhamdulillah kami sudah dikaruniai sepasang anak, zahwa umur 5 tahun dan Azkal umur 4 tahun. Umur kehamilannya sekitar 6 bulan. Memang sampai saat ini kami belum pernah memeriksakan kehamilan istriku ini ke dokter kandungan. Bukan karena mentang-mentang kami berdua dokter, tapi karena waktunya belum pas ( sory, temen2 residen/SpOG kalau saya tidak ngikutin protap).

Ada perbedaan kehamilan ini dengan sebelumnya. Istri saya juga sering protes dengan perbedaan ini. Yakni, ngidam dan oek-oek-an alias muntah. Di kehamilan pertama dan kedua, istri saya sama sekali tidak ngidam apa-apa dan tidak morning sickness sedikitpun. Orang Jawa bilang hamil kebo ( saya bayangin kalo kebo hamil kudu ngidam ama muntah-muntah, pasti kasian yang punya kali ya? hehe). Tentunya kondisi ini sangat “menguntungkan” saya sebagai suami yang harus siaga. Karena saya sering dapat cerita dari temen-temen yang lain bagaimana mereka harus muter-muter nyari manggis di malam hari pada saat musim mangga!hehe.

Pada kehamilan ketiga ini, barulah saya merasakan juga “penderitaan” suami ketika istrinya ngidam. Pernah suatu waktu kami dalam perjalanan, kemudian singgah di suatu mesjid untuk sholat. Ketika selesai istri saya melihat mangga muda yang ada di pohon halaman mesjid itu seraya berkata,”kayanya itu mangga menggoda juga”. Nah lo, kan saya jadi bingung. Mau minta, ga tahu ke siapa karena mesjidnya ga ada yang nungguin. Mau ngambil aja, Astaghfirullah! Masa nyolong di Rumah Allah? Akhirnya,saya keluarkan jurus pamungkas saya, yakni mengalihkan perhatiannya seraya tancap gas! Bruuumm…

Masalah oek-oek istri saya juga cukup aneh. Umumnya muntah pada orang hamil seringnya pagi, makanya disebut morning sickness. Tapi pada istri saya kebanyakan malah malam hari (setahu saya sih ga ada istilah night sickness). Akhirnya, pada malam hari saya beraih profesi menjadi tukang pijat untuk mengeluarkan seluruh isi lambungnya. Terkadang istri saya bertanya dengan nada protes,” kok hamil kali ini beda sih?” Lalu saya jawab dengan nada becanda,” Ya,iyalah. Masa ya iya dong? Hehe. (Rupanya walaupun seorang dokter, disaat-saat tertentu keluar juga awamnya)

Saya sangat salut kepada istri saya dan juga kepada ibu-bu yang ada badai di perutnya. Mereka begitu luar biasa dengan naluri keibuannya sehingga apapun kondisinya mereka jalani dengan penuh keikhlasan. Dalam puisi Rendra, Bu Aminah tidak jadi menggugurkan kandungannya, padahal ia sudah berada di klinik aborsi. Walau badai yang ada di perutnya dari perbuatan haram, perang batin Bu Aminah menyimpulkan bahwa isi perutnya juga memiliki hak untuk menghirup dunia. Makanya saya sering merasa heran kenapa masih saja ada orang yang mau menggugurkan kandungannya dengan alasan bla..bla..bla..Kata Bang Haji Oma, terlalu!

Kepada istriku dan ibu-ibu yang ada badai di perutnya, teruslah memelihara dan merawat badai yang sudah ditanamkan Allah SWT di perutmu. Biarlah Allah SWT dan para malaikatNya melihat dan menyaksikan perjuanganmu, sehingga kamu mendapatkan kemuliaan dariNya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: