bahagia dengan berbagi

Telat

gadis kecil

 

 

 

 

 

 

Telat? Ya, begitulah keadaannya. Dan Zahwa melakukannya dengan cuek dan rasa tidak bersalah. Sebelum peristiwa ini Zahwa sangat diisiplin dan tidak mau telat. Sehingga aku atau istriku harus mengantarkan Zahwa sekitar jam 7.15. Waktu tempuh dari rumah ke TK Zahwa hanya sekitar 5 menit. Dan jam 7.25 semua murid sudah berbaris masuk kelas.

Kondisi berubah setelah kejadian ini. Suatu hari Zahwa bangun kesiangan. Akibatnya jam 7.30 baru selesai beres-beres. Saat itu Zahwa menangis tidak mau sekolah karena sudah telat. Setelah dibujuk, akhirnya Zahwa mau juga ke sekolah. Sesampainya di sekolah ternyata pintu kelas sudah ditutup. Zahwa kembali nangis dan tidak mau masuk. Setelah diketuk, akhirnya bu guru keluar. Dengan penuh kasih sayang dan keibuan, sang guru berkata,” Zahwa, kenapa nangis? Dijawab oleh istri saya,”karena telat bu guru”. Ga apa-apa kok telat,” hibur Bu Guru.
Mendengar perkataan Bu Guru Zahwa terdiam dan kembali belajar bersama teman-temannya.

Tapi apa dinyana, keesokan harinya malahan Zahwa kelihatan nyantai. Biasanya bangun langsung mandi namun sekarang nonton TV dulu. Ketika aku mengingatkan,”Zahwa,ayo mandi. Ntar telat lagi loh..” Dengan santainya Zahwa menjawab,”kemarin kata Bu Guru juga ga apa-apa telat”. Hah? aku dan istriku langsung kaget sekaligus tertawa mendengar jawabannya. Rupanya perkataan Bu Guru kemarin “dipelintir” olehnya. Sama seperti politisi sekarang yang hobi memelintir perkataan lawan politik untuk kepentingan politiknya.

Sampai sekarang kami belum mampu “menangkis” alasan Zahwa untuk telat. Zahwa yang sebelumnya mandi sekitar jam 6 pagi, sekarang baru mandi sekitar jam 7. Itupun dilanjutkan dengan menonton Dora The Explorer, kartun kesayangannya. Baru jam 7.30 Zahwa berangkat sehingga bisa dipastikan hampir setiap hari telat.

Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat buat para orangtua, calon orang tua atau pendidik. Bahwa kita betul-betul harus memperhatikan perkataan kita kepada anak.Mungkin maksud kita baik, tapi yang ditangkap oleh anak belum tentu sesuai dengan maksud kita. Kalau tidak, bisa jadi perkataan kita digunakan sebagai “senjata” oleh anak kita untuk “menaklukkan” kita.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: