bahagia dengan berbagi

Perang

leonidas

Pemilu ini perang belaka, tentu saja bagi yang merasakannya. Semacam perang legal, tanpa adu senjata dan pertumpahan darah. Perang yang mengandalkan otak ketimbang otot. Namun sama-sama menguras emosi dan perasaaan.

 

Perang ini menentukan wajah Indonesia ke depan. Apakah makmur dan sejahtera, atau masih bopeng-bopeng karena korupsi dan pemimpin yang berbalut citra.

 

Perang ini bukan hanya bicara logistik, tapi juga strategi dan taktik. Setiap caleg adalah panglima yang membawahi pasukannya, timsesnya, dan relawannya dalam menaklukkan daerah pemilihannya. Berbagai cara dilakukan ; baksos, direct selling, perlombaan, seminar, tabligh akbar dsb.

 

Perang ini uji nyali dan mental. Ketahanan diri melawan serangan dari luar ; black campaign, propaganda, boikot, intimidasi, serangan fajar, serangan dhuha dan terakhir serangan isya di PPS. Lebih dari itu semua adalah melawan diri sendiri. Ini yang paling sulit. Melapangkan hati disaat sempit, bersabar disaat emosi, dan tenang disaat galau. Maka bagi orang-orang yang tidak siap, minggir saja. Daripada kecewa atau masuk rumah sakit jiwa.

 

Perang ini perang bubat, perang basosoh. Segenap daya upaya dikerahkan untuk menang. Sumber daya dikeluarkan habis-habisan. Tenaga, pikiran, uang, apapun  menjadi senjata.

 

Perang ini mengenal diri. Sudah berapa hapal medan pertempuran. Lekuk jalan, bukit dan gunung. Demografi dan sosiologi masyarakat. Dana dan sumberdaya. Strategi yang tepat dan cermat, sehingga amunisi yang terbatas mampu menembus sasaran.

 

Perang ini mengintip kekuatan lawan. Bagaimana mereka habis-habisan. Jual tanah, sawah, pinjam kiri kanan. Berlelah-lelah mencari relawan dan tim sukses dengan blusukan. Ada yang tak segan-segan menjanjikan rupiah sekian jika mendapat suara signifikan. Semuanya tentu demi memenangkan pertempuran.

 

Perang ini adalah laboratorium  yang luas. Segala teori yang didapat dari ruang 3×2, ruang kelas, buku-buku, dipraktikkan. Materi-materi itu diuji ; apakah baru sebatas pengetahuan ataukah sudah berbuah amal?  

 

Perang ini menjadi  naif jika masih saja ada yang berpangku tangan. Seperti kaum Bani Israil yang membiarkan Nabi Musa jalan sendiri. “..pergilah engkau bersama Tuhan engkau dan berperanglah engkau berdua sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini !” (5:24)

 

Perang ini ajang pembuktian. Mana pejuang mana yang senang di zona nyaman. Momentum hanya datang sekali, seperti Allah swt membedakan mana yang ahlu Badr dan yang tidak.

 

Perang ini mengingatkan saya pada Leonidas. Seorang raja dengan 300 orang pasukan ketika akan berperang melawan ribuan pasukan Persia. Dengan lantang ia bertanya,”Spartan! Apa pekerjaan kalian?” Pasukannya menjawab dengan gempita, “Perang! Perang! Perang!”.

Perang ini puncak perjuangan. Dan seperti kata Rendra, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata..”

 

Comments on: "Perang" (2)

  1. Pejuang sejati yang menginginkan perubahan yang lebih baik … tidak golput di Pemilu 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: